Ticker

6/recent/Ticker-posts

Tradisi Warga Bukal Malang Menjenguk Orang Sakit


IndoMetro Lombok : Menjenguk orang yang sakit adalah perwujudan dari solidaritas masyarakat Kampung Bukal Malang kepada sesama masyarakat juga kepada rekan, sahabat, keluarga, dan mereka-mereka yang sedang terkena musibah sakit.Masyarakat meyakini Manfaatnya sangat banyak, selain mempererat tali persaudaraan dan menjadi ajang silaturahmi, kegiatan menjenguk juga bisa memberikan dorongan motivasi serta menambah kepercayaan diri kepada si sakit, harapannya ia bisa lebih tegar, sabar, dan semangat dalam menjalani ujian tersebut.

Kegiatan menjenguk orang sakit juga telah menjadi tradisi di kalangan masyarakat Kampung Bukal Malang, masyarakat sudah sering melakukannya dan merasakan kegiatan jenguk-menjenguk, baik sebagai pihak yang menjenguk ataupun orang yang dijenguk.

Namun ada satu hal yang harus kembali dikoreksi oleh seluruh masyarakat tentang etika dari tradisi menjenguk di Indonesia. Ini berkaitan dengan waktu dan kondisi yang tepat untuk menjenguk.
Masyarakat harus tahu kalau di rumah sakit itu ada sistem berjenjang pada perawatan pasiennya, tergantung dari tingkat kegawatan dari kondisi pasien. Untuk yang gawat biasanya ada di ICU/ICCU, dan kemudian bertahap hingga yang paling rigan ada di bangsal/kamar perawatan.

Nah, ternyata banyak masyarakat kita yang belum paham dengan hal ini. Mungkin karena belum tahu tentang esensi pasien yang dirawat di ICU, sering saya temukan banyak dari mereka yang tetap memaksakan diri untuk masuk ke dalamnya untuk menjenguk, padahal hal yang seperti ini justru kurang baik untuk proses penyembuhan pasien.

Sebenarnya, kalau sedang dirawat di ICU, ataupun jika sudah pindah ke kamar namun tertera tulisan “mohon untuk tidak dijenguk”, ini artinya dari tim medis rumah sakit belum menganjurkan si pasien untuk ‘diganggu’ terlebih dahulu. Mereka pasti punya pertimbangan terbaik agar si pasien bisa beristirahat dan memulihkan kondisinya dahulu sebelum bisa berinteraksi lagi dengan orang lain.

Sayangnya ini yang kurang dipahami masyarakat, mungkin karena belum tahu ataupun karena kurangnya pemahaman akan kondisi pasien, banyak yang tetap masuk ke dalam, dan parahnya lagi tradisi menjenguk di masyarakat kita selalu dibarengi dengan cara yang kurang baik, yaitu si penjenguk pasti mengajak si pasien untuk ngobro Ini yang bikin risih, alih-alih memberikan waktu istirahat bagi si pasien, si penjenguk malah mengajaknya untuk ngobrol ngalor ngidul, seperti tidak sadar bahwa kerabatnya yang sakit ini sedang butuh waktu untuk rehat. Semakin banyak diajak ngobrol, maka kondisi pasien juga otomatis semakin lelah, dan ini bisa mengakibatkan waktu pemulihannya semakin lama.

Kita sebagai orang yang sehat, sudah seharusnya memahami keadaan mereka yang sedang sakit. Maka, dalam menjenguk kita juga harus memperhatikan etika dan keadaan si pasien. Apabila belum memungkinkan untuk dijenguk ya jangan dijenguk dahulu.

Contoh penjenguk yang baik pernah saya temukan dalam beberapa kesempatan.

Pernah suatu kali masyarakat Kampung Bukal Makang datang menjenguk, mereka datang dan kemudian satu persatu bersalaman dengan pasien. Setelah itu salah satu di antara masyarakat langsung memimpin doa yang dilakukan bersama-sama untuk mendoakan kesembuhan si pasien, setelah selesai doa mereka langsung pamit kepada si pasien dan langsung keluar. Kemudian barulah di luar ruangan, mereka ngobrol bermacam-macam dengan keluarga yang menunggu si pasien.

Ini patut untuk dicontoh, karena ini adalah . Si penjenguk mendapat kesempatan untuk menjenguk serta mendoakan, dan si pasien pun tidak terlalu lelah dalam menerima tamu. Urusan ngobrol serta lainnya bisa dilakukan melalui anggota keluarga si pasien yang masih sehat tanpa mengganggu si pasien.

Intinya, dalam kegiatan menjenguk, kita tidak hanya mementingkan solidaritas dan rasa kekeluargaan semata, memang itu sangat baik dan terpuji, namun alangkah baiknya jika tetap memperhatikan etika dan kondisi pasien yang akan dijenguk.


Sudirman Lombok Tengah

Artikel Terkait