Miris! Pengakuan Reynhard Sinaga, Pemerkosa Terbesar Inggris: Teguk Racun Rahasia Saya, Anda Akan Jatuh Cinta - Indometro Media

Berita Terbaru

Monday, January 6, 2020

Miris! Pengakuan Reynhard Sinaga, Pemerkosa Terbesar Inggris: Teguk Racun Rahasia Saya, Anda Akan Jatuh Cinta

Baca Juga

Pengakuan Reynhard Sinaga, Pemerkosa Terbesar Inggris: Teguk Racun Rahasia Saya, Anda Akan Jatuh Cinta
ist

INDOMETRO.ID - Satu kawasan di pusat Kota Manchester, Inggris, selalu ramai di kunjungi anak-anak muda pada malam hari, terutama akhir pekan. 

Di apartemen di jalan inilah, Reynhard Sinaga, tinggal sejak 2011, area tempat dia mencari sasarannya secara rutin, malam demi malam, mulai Januari 2015 hingga tertangkap pada 2 Juni 2017.

Dalam satu kasus, Reynhard hanya memerlukan 60 detik untuk mendapatkan sasaran pria muda. 

Sejak awal persidangan, Reynhard menyanggah dia memerkosa mereka dan mengatakan hubungan itu dilakukan atas dasar suka sama suka, walaupun bukti di pengadilan menunjukkan para korban yang diperkosa tidak sadar.

Reynhard, tampak sering tersenyum, ramah dan berperawakan kurus, penampilan yang tidak membuat targetnya curiga.

Keramahan inilah yang membuat sekitar 190 pria muda menerima ajakannya untuk melanjutkan perbincangan di apartemennya -lokasi tempat dia membius dan memperkosa korbannya- sebagian berkali-kali.

Kesan terhadap Reynhard ini dipaparkan oleh 48 korban pria muda yang kasusnya telah disidangkan, dalam empat tahap, mulai Juni 2018 sampai Desember 2019. Sekitar 70 korban lain masih belum diidentifikasi.

Kepolisian Manchester, Inggris, dapat mengetahui jumlah korban sebesar ini karena Reynhard Sinaga memfilmkan semua aksinya.

Reynhard Sinaga dihukum seumur hidup dengan masa hukuman minimal 30 tahun berada di penjara oleh Pengadilan Manchester, Inggris, pada Senin (6/1/2020).

Dia terbukti melakukan 159 kasus perkosaan dan serangan seksual terhadap 48 orang pria, selama rentang waktu dua setengah tahun dari 1 Januari 2015 sampai 2 Juni 2017.

Di antara 159 kasus tersebut, terdapat 136 kasus pemerkosaan, di mana sejumlah korban diperkosa berkali-kali. 

Pemerkosaan direkam seperti layaknya ada di 1.500 DVD.

Kepala unit kejahatan khusus, Kepolisian Manchester Raya, Mabs Hussain, mengatakan bukti video yang direkam melalui dua telepon genggam Reynhard seperti halnya menyaksikan 1.500 film DVD.

Hussain mengatakan penyidikan dua tahun kasus pemerkosaan yang disebut "Operation Island", Operasi Pulau, ini seperti layaknya menyusun teka-teki tanpa gambar.

Kepolisian dan kejaksaan menyebut kasus ini adalah penyelidikan pemerkosaan terbesar dalam sejarah Inggris, dan aparat menyerukan kepada korban-korban lain untuk melapor.
 
Ian Rushton, dari Kantor Kejaksaan yang memimpin penyelidikan kasus, mengatakan Reynhard Sinaga kemungkinan adalah pemerkosa terbesar di dunia.

Reynhard berasal dari keluarga mapan yang tinggal di Depok, Jawa Barat. Dia merupakan anak tertua dari empat bersaudara. Ayahnya adalah pengusaha yang bergerak di sejumlah bidang.

Reynhard lulus dari fakultas teknik jurusan arsitektur di Indonesia pada 2006 dan melanjutkan studi ke Inggris setahun setelah itu.

Dia meraih tiga gelar magister di Manchester. 

Dia tengah melanjutkan studi doktoral di Universitas Leeds saat tertangkap, tapi tetap tinggal di Manchester.

Dari penuturannya, Reynhard diketahui pernah bekerja sebentar di dua klub sepak bola Manchester, toko baju dan juga di bar di Gay Village, kawasan yang sering dikunjunginya. Dia juga sering beribadah di salah satu gereja di kota itu.

Sasaran Reynhard adalah pria muda -sebagian besar berusia 20 tahunan- yang pada umumnya tengah berkumpul dan minum-minum bersama rekan-rekan mereka di klub-klub malam.

Banyak di antara mereka yang begitu mabuk dan tidak ingat pertemuan dengan Reynhard dan hanya beberapa yang ingat momen saat diajak ke apartemennya, namun setelah itu tak ingat apa-apa lagi.

Di sebagian rekaman, Reynhard tampak meniduri para pria muda yang tidak sadar, di sebagian lainnya terlihat ada yang muntah sementara Reynhard terus menjalankan aksinya.

'Racun rahasia untuk membuatmu jatuh cinta'
Untuk mengidentifikasi para korban ini, para detektif menggunakan rekaman film dan "trofi" berupa barang milik korban yang diambil Reynhard termasuk dompet, jam tangan, kartu identitas serta unduhan akun media sosial.

Para penyidik juga menggunakan teknologi pengenalan wajah, bekerja sama dengan universitas dan lembaga-lembaga terkait di seluruh Inggris untuk mencari tahu korban.

Para petugas polisi juga menelusuri apakah Reynhard sampai membunuh korban, dengan meneliti kasus kematian atau orang yang hilang. Namun tidak menemukan bukti tersebut.

Setelah mengetahui identitas korban, para petugas mengontak korban dan memberi tahu bahwa mereka adalah korban serangan seksual.

Lisa Waters dari St Mary's Sexual Assault Referral Centre, Pusat Bantuan Serangan Seksual St Mary's, Manchester, mengatakan para petugas dengan didampingi detektif melakukan kontak pertama dengan korban dan langsung menawarkan bantuan konseling.

Waters mengatakan bahwa memberi tahu korban apa yang terjadi merupakan sesuatu yang sangat sulit.

Sebagian korban, menurut Waters, memilih untuk tidak memberi tahu siapa pun, karena berbagai alasan, termasuk untuk melindungi kejiwaan mereka sendiri, malu, atau bahkan takut untuk menghadapi tanggapan orang.

Reynhard, juga terungkap memberi tahu sejumlah temannya -yang tak curiga apa pun- tentang aksinya karena dia mengatakan berbagai hubungan seks itu atas dasar suka sama suka.

Dalam satu pesan teks tentang korban pertama yang memberikan kesaksian di pengadilan, Reynhard sempat memamerkan apa yang terjadi pada malam tahun baru 2014.

"Saya tidak dapat ciuman tahun baru, tapi saya sudah melakukan hubungan seks pertama tahun 2015," tulisnya, seperti dilaporkan BBC, Selasa (7/1/2020).

Dia menambahkan, "Pria yang dimaksud adalah pria heteroseksual pada 2014, dan 2015 adalah terobosan dalam dunia gay, hahaha."

Dalam percakapan teks lain, dia sempat membual tentang kemahirannya menggaet pria heteroseksual dan menulis," Teguk racun rahasia saya, saya akan membuatmu jatuh cinta."

Pejabat polisi Manchester Mabs Hussain mengatakan mereka memperkirakan Reynhard melakukan tindak kejahatan sekitar 10 tahun, jauh lebih lama dari periode dua setengah tahun berdasarkan bukti yang ada, mulai dari Januari 2015 sampai ditahan pada Juni 2017.

Tim penyidik sudah berbicara dengan sejumlah pria, yang diidentifikasi berdasarkan bukti foto-foto yang diambil sebelum 2015.

Mereka ingat pernah berada di apartemen Reynhard namun tak ingat apa yang terjadi dan tak ada bukti lebih lanjut bahwa mereka diperkosa.

Reynhard memberikan pembelaannya pada sidang pertama, Juni 2018, dan pada sidang keempat, Desember 2019, dengan menyatakan apa yang disebut hakim sebagai pembelaan yang tidak masuk akal.

Reynhard menyebut setiap korban setuju untuk dipenetrasi sambil berpura-pura tidur untuk menjalankan fantasi seks-nya.

Selama empat persidangan yang berlangsung, hakim melarang media memberitakan proses hukum kasus ini untuk memastikan persidangan berjalan adil.

Larangan baru dicabut setelah hakim mengeluarkan putusan pada Senin (6/1/2020).
Peradilan Inggris dengan sistem juri dalam kasus pemerkosaan ini menggunakan empat tim juri yang berbeda.

Dalam sidang terungkap, saat pertemuan awal dengan para pria muda itu, tidak ada pembicaraan terkait seks, dan Reynhard menggunakan berbagai cara untuk mengajak sasarannya.

Sebagian diajak minum, sebagian men-charge telepon genggam mereka sambil menunggu taksi untuk pulang.

Dari 48 orang pria muda -semua adalah pria kulit putih Inggris- yang kasusnya telah disidangkan, 45 orang adalah heteroseksual dan tiga gay. Sebagian besar tinggal di Manchester.

Kesaksian mereka di persidangan menunjukkan bagaimana Reynhard beraksi.
Semua bukti rekaman video yang direkam Reynhard sendiri menunjukkan pria yang diperkosanya tak sadar.

Namun pria kelahiran Jambi ini tetap menekankan bahwa para korbannya berpura-pura tidur sebagai bagian dari permainan fantasi seks.

Dua korban memberikan kesaksiannya dalam dua sidang yang dihadiri BBC News Indonesia Desember lalu. Pada Selasa pagi, 3 Desember 2019, sekitar pukul 10.30, setengah jam sebelum Hakim Suzanne Goddard masuk ruang sidang Pengadilan Manchester, Reynhard masuk didampingi dua petugas.

Dia mengenakan sweater (baju hangat) krem dan celana hitam, berkaca mata dan membawa seberkas dokumen. Reynhard tampak beberapa kali berbicara dengan para petugas sebelum hakim masuk.

Hari itu, sidang menghadirkan saksi pertama, seorang pria yang diperkosa Reynhard pada 2015. Korban pertama yang dihadirkan duduk di balik tirai.

Reynhard dan pengunjung sidang termasuk media yang hadir diminta untuk keluar terlebih dahulu sebelum korban dihadirkan dan duduk dibalik tirai.

Hanya hakim, 12 anggota juri, jaksa dan kuasa hukum yang dapat melihat korban yang memberikan kesaksiannya.

Dari empat pengadilan terpisah sejak Juni 2018 sampai Desember 2019, hanya beberapa korban memberikan kesaksian tanpa sekat.

Sepanjang sidang pada 3 Desember sekitar lima jam itu, Reynhard sering menyisir rambut panjangnya yang belah pinggir, dengan jari-jarinya.

Reynhard juga tampak mendengarkan keterangan korban sambil sekali-sekali menunduk untuk mencatat.

Jaksa penuntut, Iain Simkin yang pertama kali mengajukan pertanyaan kepada korban, termasuk di mana korban bertemu dengan Reynhard dan mengapa sampai akhirnya dia bisa sampai terbangun di apartemen pria Indonesia itu.

Korban yang saat kejadian berusia 19 tahun tersebut mengatakan dia pergi minum-minum dengan rekan-rekan dan pacarnya pada Sabtu malam, 24 Januari 2015.

Saat ditanya apakah dia dalam keadaan mabuk, pria itu mengatakan dalam kondisi cukup mabuk. 

Dia bersama pacar dan teman-temannya berada di satu klab malam dan keluar dari klab karena bertengkar dengan sang pacar.

"Saya ingat dia mengajak saya ke tempatnya," kata pria itu.

Dia mengatakan Reynhard tampak baik sehingga dia bersedia diajak.

Dia ditawari satu gelas minuman keras dan mengatakan merasa mual dan tak ingat apa-apa lagi setelah itu.

Saat ditanya jaksa penuntut apa yang dia rasakan saat terbangun pada pukul 10.00 keesokan harinya, pria itu mengatakan "sangat hangover" (sakit kepala berat setelah mabuk).

Bagaimana dengan kondisi pakaian, tanya jaksa, dan dijawab, "Celana dalam keadaan terbuka."

Korban juga mengatakan pacarnya mencarinya sepanjang malam dan menelepon polisi.


berita ini bersumber dari inews

No comments:

Post a Comment