Sering Stres Bisa Picu Serangan Jantung dan Deretan Penyakit Membahayakan Ini - Indometro Media

Berita Terbaru

Thursday, October 3, 2019

Sering Stres Bisa Picu Serangan Jantung dan Deretan Penyakit Membahayakan Ini

Baca Juga

Sering Stres Bisa Picu Serangan Jantung dan Deretan Penyakit Membahayakan Ini

INDOMETRO.IDPenyakit jantung bisa mengintai siapa saja dan tidak selalu yang berumur matang. Tidak hanya gaya hidup, ternyata stres menjadi salah satu pemicu serangan jantung.
Menurut Interheart Studi, stres menduduki nomor tiga yang menyebabkan penyakit jantung. Pastinya Anda harus waspada, apalagi kalau merasa sering stres. Belum lagi dengan tambahan faktor risiko kolesterol, merokok, diet kurang baik, tekanan darah tinggi, kurang olahraga, kelebihan makan daging, pemakaan obat-obatan, hingga riwayat keluarga.
Spesialis Jantung dr Antono Sutandar, SpJP(K), FACC, FIHA dari Siloam Hospital Kebon Jeruk menjelaskan, ketika tubuh sulit merilis stres, pasti dampaknya akan mengganggu hormon. Baik itu pada laki-laki maupun perempuan, dampaknya sama saja.
"Saya rasa stres membuat hormon jelek lebih muncul. Jadi lebih membuat kita mudah kena pra-diabetes dan tekanan darah tinggi," ucap dr Antono ditemui di kawasan Kebon Jeruk, Jakarta Barat, belum lama ini.
Saat tekanan darah terus naik, sering kali menyebabkan robekan pembuluh darah koroner atau otak. Hal itu bisa menyebabkan gumpalan dan menyumbat pembuluh darah jantung.
Bahkan kalau keseringan stres, sambung dr Antono, membuat organ tubuh lebih cepat menua. Termasuk bagian jantung, saat usia semakin menua, fungsinya juga menurun.
"Pada dasarnya, mau enggak mau stres akan membuat kita menua lebih cepat. Makanya sering pepatah bilang, hati yang suka cita dan gembira itu obatnya," kata dr Antono.
Saat ini, lanjut dr Antono, semakin banyak orang menderita penyakit jantung koroner. Di Amerika Serikat misalnya, seseorang yang berusia 75 tahun sering mengalami penyakit jantung. Sekira 70-75 persen dialami laki-laki.
"Kalau perempuan lebih jarang kena penyakit jantung karena dilindungi oleh hormon estrogen. Berbeda kalau faktor menua dan terjadi perubahan," ucapnya.
Survei Sample Regristration System (SRS) pada 2014 di Indonesia menunjukkan, Penyakit Jantung Koroner (PJK) menjadi penyebab kematian tertinggi pada semua umur setelah stroke, yakni sebesar 12,9 persen.
Data Riskesdas tahun 2013 menunjukkan, prevalensi tertinggi untuk penyakit Kardiovaskuler di Indonesia adalah PJK, yakni sebesar 1,5 persen. Dari prevalensi tersebut, angka tertinggi ada di Provinsi Nusa Tenggara Timur (4,4 persen) dan terendah di Provinsi Riau (0,3 persen), kata Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tidak Menular, Kemenkes RI, dr. Lily S Sulistyowati, MM usai konferensi pers terkait peluncuran obat jantung baru di Jakarta, Sabtu 29 September 2019.
Menurut kelompok umur, PJK paling banyak terjadi pada kelompok umur 65-74 tahun (3,6 persen) diikuti kelompok umur 75 tahun ke atas (3,2 persen), kelompok umur 55-64 tahun (2,1 persen) dan kelompok umur 35-44 tahun (1,3 persen). Sedangkan menurut status ekonomi, terbanyak pada tingkat ekonomi bawah (2,1 persen) dan menengah bawah (1,6 persen).
Data World Health Organization (WHO) tahun 2012 menunjukkan 17,5 juta orang di dunia meninggal akibat penyakit kardiovaskuler atau 31 persen dari 56,5 juta kematian di seluruh dunia. Lebih dari 3/4 kematian akibat penyakit kardiovaskuler terjadi di negara berkembang yang berpenghasilan rendah sampai sedang. Demikian dikutip dari Okezone, Kamis (3/10/2019).
Berita ini telah terbit, sumber inews.

No comments:

Post a Comment