TULUNGAGUNG –Indometroid- Upaya melestarikan warisan budaya sekaligus mengenalkannya kepada generasi muda terus dilakukan Pemerintah Kabupaten Tulungagung. Salah satunya melalui Pagelaran Wayang Kulit Kolaborasi yang menyatukan seni wayang kulit, wayang sandosa, dan wayang orang dalam satu panggung di kawasan Titik Nol Kilometer Tulungagung, Jumat (6/11/2026) malam.
Kegiatan yang diselenggarakan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kabupaten Tulungagung tersebut menjadi bagian dari peringatan Hari Wayang Nasional sekaligus rangkaian Hari Jadi ke-821 Kabupaten Tulungagung.
Mengusung tema “BERDIKARI, Apakah Aku Adalah Aku?”, pagelaran yang dipersembahkan Pakumpulan Dhalang Anom Tulungagung (Pakudhatu) ini menghadirkan konsep pertunjukan lintas genre sebagai upaya memperkenalkan sekaligus mengembangkan seni pewayangan kepada masyarakat.
Lakon Bima Suci menjadi sajian utama dalam pertunjukan wayang kulit yang dibawakan Ki Opera Flamboyant Jingga Kastasarassin Lukmandaka dari Pakudhatu. Suasana pagelaran semakin semarak dengan kehadiran bintang tamu Jo Klitik dan Jo Klutuk.
Sekretaris Daerah Kabupaten Tulungagung, Tri Hariadi, yang hadir mewakili Plt Bupati Tulungagung, mengatakan bahwa pertunjukan wayang tidak hanya memiliki nilai hiburan, tetapi juga mengandung pesan moral dan pendidikan karakter yang relevan dengan kehidupan masyarakat.
“Melalui pertunjukan seni budaya seperti ini, masyarakat tidak hanya mendapatkan hiburan, tetapi juga edukasi dan wawasan mengenai nilai-nilai kehidupan yang terkandung dalam cerita pewayangan,” ungkap Tri Hariadi.
Ia juga menyoroti filosofi kepahlawanan dan perjalanan pencarian jati diri yang tercermin dalam kisah Bima Suci. Menurutnya, cerita tersebut mengajarkan pentingnya mengenali hakikat diri serta memahami nilai-nilai kehidupan.
“Nilai-nilai yang terkandung dalam kisah pewayangan, termasuk filosofi Bima Suci, hendaknya dapat menjadi pembelajaran bagi kita semua. Harapannya, kegiatan ini memberikan manfaat bagi seluruh masyarakat Kabupaten Tulungagung, baik yang hadir secara langsung maupun yang menyaksikan melalui layar,” tambahnya.
Tema “BERDIKARI, Apakah Aku Adalah Aku?” turut memberikan ruang refleksi mengenai makna kemandirian dan identitas diri. Melalui pendekatan kolaboratif, seni pewayangan tidak hanya dipertahankan sebagai warisan tradisi, tetapi juga dikemas lebih variatif dan adaptif terhadap perkembangan zaman.
Pagelaran tersebut menjadi salah satu agenda dalam rangkaian peringatan Hari Jadi ke-821 Kabupaten Tulungagung yang berlangsung mulai Oktober hingga Desember 2026.
Kegiatan ini turut dihadiri Sekda Tulungagung Tri Hariadi, Ketua DPRD Kabupaten Tulungagung Marsono beserta istri, Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Tulungagung Johanes Bagus Kuncoro beserta jajaran, Ketua Panitia Hari Jadi ke-821 Kabupaten Tulungagung Mulyanto, Kapolres Tulungagung, serta Dandim Tulungagung.
Melalui pertunjukan yang memadukan tiga genre pewayangan tersebut, Tulungagung tidak hanya menghadirkan hiburan bagi masyarakat, tetapi juga menunjukkan bahwa seni tradisional mampu terus berkembang mengikuti zaman. Diharapkan, kolaborasi ini menjadi langkah nyata dalam menjaga kekayaan budaya daerah agar tetap dikenal, dicintai, dan diwariskan kepada generasi mendatang.



Posting Komentar untuk "Memperingati Hari Jadi 821- Kolaborasi Tiga Seni Pewayangan, Tulungagung Hadirkan Pertunjukan Budaya Spektakuler"