Reduce bounce ratesindo MBG Lebih Tepat Dikelola SPPG, Bukan Dibebankan kepada Kantin Sekolah - Indometro Media
☀️ --°C Medan
banner image

MBG Lebih Tepat Dikelola SPPG, Bukan Dibebankan kepada Kantin Sekolah

Raudhatul Akmalia

Jangan sampai program yang tujuan awalnya membantu siswa justru menambah beban sekolah dan guru. Guru seharusnya fokus memberikan pembelajaran kepada siswa

Aceh Utara. Indometro. Id — Program Makan Bergizi Gratis (MBG) dinilai lebih tepat dikelola oleh Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) dibandingkan dibebankan kepada kantin sekolah. Selain memiliki tujuan khusus untuk memenuhi kebutuhan gizi peserta didik, pengelolaan MBG membutuhkan perencanaan, standar pengolahan, pemorsian, kebersihan, hingga pengawasan yang tidak sederhana.

Perwakilan Yayasan Seramou Aneuk Nanggroe untuk SPPG Simpang Tiga, Kecamatan Langkahan, Kabupaten Aceh Utara, Raudhatul Akmalia, mengatakan MBG merupakan langkah strategis pemerintah dalam membantu memastikan anak-anak mendapatkan asupan makanan bergizi selama mengikuti aktivitas pendidikan.

Menurutnya, kebutuhan anak bukan sekadar makanan untuk menghilangkan rasa lapar. Peserta didik membutuhkan asupan dengan kandungan gizi yang baik untuk mendukung pertumbuhan, kesehatan, konsentrasi, serta aktivitas mereka selama proses pembelajaran. 

“Anak-anak bukan hanya membutuhkan makanan untuk menghilangkan rasa lapar. Mereka juga membutuhkan gizi yang baik yang dapat mendukung pertumbuhan, kesehatan, dan aktivitas belajar,” ujar Akmalia.

MBG Berbeda dengan Kantin Sekolah

Akmalia menjelaskan, MBG memiliki konsep dan tujuan yang berbeda dengan kantin sekolah.

Kantin sekolah pada dasarnya merupakan fasilitas yang menyediakan makanan, minuman, dan berbagai kebutuhan konsumsi yang dapat dibeli oleh siswa. Sementara MBG merupakan program khusus yang dirancang untuk memenuhi kebutuhan gizi peserta didik melalui makanan yang disiapkan berdasarkan perencanaan dan standar tertentu.

Menurutnya, penyediaan makanan untuk program MBG tidak berhenti pada proses memasak. Ada rangkaian tahapan yang harus diperhatikan, mulai dari pemilihan dan penyediaan bahan baku, perencanaan menu, penghitungan kandungan gizi, persiapan bahan, proses pengolahan, hingga pemorsian dan pendistribusian dengan memperhatikan kebersihan dan keamanan pangan.

Karena itu, menurut Akmalia, pengelolaan MBG membutuhkan unit khusus seperti SPPG yang memang memiliki tanggung jawab dalam penyediaan makanan bergizi bagi penerima manfaat.

“MBG bukan sekadar menyediakan makanan. Ada proses yang harus diperhatikan mulai dari bahan baku, menu, kandungan gizi, pengolahan, kebersihan sampai makanan diterima oleh siswa,” jelasnya.

Jangan Membebani Sekolah dan Guru

Akmalia menilai pengelolaan MBG oleh kantin sekolah atau bahkan dibebankan kepada pihak sekolah berpotensi menambah beban kerja sekolah.

Menurutnya, sekolah memiliki tugas utama menyelenggarakan pendidikan. Guru seharusnya dapat memusatkan perhatian pada proses pembelajaran, bukan justru terbebani dengan pekerjaan teknis penyelenggaraan makanan dalam jumlah besar.

Jika pengelolaan MBG diserahkan kepada sekolah, kata dia, pihak sekolah harus ikut memikirkan siklus menu, pengadaan bahan, pengolahan, pemorsian hingga distribusi makanan kepada siswa.

Kondisi tersebut dikhawatirkan dapat mengganggu fokus sekolah dalam menjalankan fungsi utamanya sebagai lembaga pendidikan.

“Jangan sampai program yang tujuan awalnya membantu siswa justru menambah beban sekolah dan guru. Guru seharusnya fokus memberikan pembelajaran kepada siswa,” katanya.

SPPG Dinilai Lebih Tepat

Menurut Akmalia, keberadaan SPPG memberikan pembagian tugas yang lebih jelas. Sekolah dapat fokus pada pendidikan, sedangkan penyediaan makanan bergizi ditangani oleh pihak yang memiliki kapasitas dan sistem khusus untuk menjalankan program tersebut.

Dengan pembagian tugas tersebut, pelaksanaan MBG diharapkan dapat berjalan lebih profesional, terukur, dan konsisten.

Ia juga menekankan pentingnya evaluasi secara berkala. Evaluasi diperlukan untuk memastikan kualitas makanan, ketepatan distribusi, kebersihan, pelayanan, serta kesesuaian makanan dengan kebutuhan peserta didik.

“Program yang besar tentu membutuhkan evaluasi. Yang terpenting adalah bagaimana setiap evaluasi digunakan untuk meningkatkan kualitas pelayanan dan memastikan manfaatnya benar-benar dirasakan oleh siswa,” ujarnya.

Dorong Pola Makan Sehat

Lebih jauh, Akmalia menilai MBG juga memiliki nilai edukatif. Melalui makanan yang beragam dan bergizi seimbang, siswa dapat diperkenalkan dengan pola konsumsi yang lebih sehat sejak usia sekolah.

Program tersebut tidak hanya diharapkan mampu memenuhi kebutuhan makan siswa, tetapi juga membangun kesadaran mengenai pentingnya makanan bergizi dalam kehidupan sehari-hari.

Di sisi lain, pelaksanaan MBG juga berpotensi memberikan dampak ekonomi bagi masyarakat sekitar. Kebutuhan bahan pangan dalam jumlah besar dapat membuka peluang bagi petani, peternak, nelayan, pelaku UMKM, serta pemasok bahan pangan lokal untuk terlibat dalam rantai pasok program.

Keberhasilan Diukur dari Manfaat bagi Siswa

Akmalia berharap pelaksanaan MBG di Aceh Utara terus dikembangkan dengan tetap mengutamakan kualitas dan manfaat bagi penerima.

Menurutnya, ukuran keberhasilan MBG bukan semata-mata berapa banyak makanan yang didistribusikan, tetapi sejauh mana makanan tersebut memenuhi standar gizi, aman dikonsumsi, diterima dengan baik oleh siswa, dan memberikan manfaat terhadap kesehatan serta kesiapan mereka mengikuti pembelajaran.

“Pada akhirnya keberhasilan MBG dapat dilihat dari manfaat yang diterima siswa. Makanan yang bergizi, pelayanan yang baik, serta pengelolaan yang tepat merupakan bagian penting agar program ini benar-benar memberikan dampak positif bagi generasi muda,” pungkas Akmalia.

Posting Komentar untuk "MBG Lebih Tepat Dikelola SPPG, Bukan Dibebankan kepada Kantin Sekolah"

Berita Terkini

UPDATE BERITA
Berita Terbaru LIVE
  • Memuat berita...
Berita Terkini UPDATE
  • Memuat berita...
Ads :