Oleh : Zulkifli
![]() |
| Zulkifli |
Jabatan bukan Tuhan. Atasan bukan penentu rezeki. Kekuasaan bukan jaminan keselamatan. Lalu mengapa masih banyak orang rela mengorbankan prinsip, kebenaran, bahkan suara hati hanya karena takut kehilangan kursi dan kedudukan?
Aceh. Indometro. Id - Di ruang publik, fenomena seperti di atas bukan lagi sesuatu yang sulit ditemukan. Ada orang yang begitu takut kehilangan jabatan sehingga keberaniannya berbicara kebenaran ikut hilang. Ada yang selalu mengangguk ketika atasan berbicara, meskipun dalam hati mengetahui bahwa keputusan tersebut keliru.
Lebih ironis lagi, budaya asal bapak senang (ABS) terkadang tumbuh subur justru di lingkungan yang seharusnya menjunjung integritas.
Yang salah dibenarkan. Yang benar disembunyikan. Yang berani mengkritik dianggap mengganggu. Yang selalu memuji justru dianggap loyal.
Pada titik inilah persoalannya tidak lagi sekadar menyangkut jabatan. Ia menyentuh persoalan iman, moral, dan keberanian manusia mempertanggungjawabkan perbuatannya di hadapan Allah.
Jabatan Dipertahankan, Kebenaran Dikorbankan
Jabatan pada hakikatnya adalah amanah. Ia bukan milik pribadi dan bukan pula sesuatu yang harus dipertahankan dengan segala cara.
Namun ketika jabatan mulai dianggap sebagai sumber kehormatan, penghasilan, pengaruh, dan keselamatan hidup, seseorang dapat terjebak pada ketakutan yang berlebihan.
Takut dipindahkan. Takut tidak dipercaya lagi. Takut tidak mendapatkan posisi. Takut kehilangan fasilitas. Takut kehilangan akses. Takut kehilangan kekuasaan. Akhirnya, takut kepada manusia menjadi lebih besar daripada takut kepada Allah.
Inilah yang patut direnungkan.
Bukan berarti setiap orang yang khawatir kehilangan jabatan otomatis kehilangan iman. Persoalannya adalah ketika rasa takut tersebut mendorong seseorang untuk meninggalkan kejujuran, membiarkan ketidakadilan, menjilat kekuasaan, atau mengorbankan kepentingan masyarakat demi mempertahankan posisi.
Ketika itu terjadi, jabatan telah berubah dari amanah menjadi sesuatu yang dipertuhankan dalam perilaku.
Budaya ABS Melahirkan Lingkaran Kekuasaan yang Tidak Sehat
Budaya ABS adalah salah satu penyakit organisasi yang berbahaya.
Bukan karena menghormati atasan itu salah. Menghormati pimpinan merupakan bagian dari etika. Tetapi penghormatan kehilangan maknanya apabila berubah menjadi kepatuhan tanpa kritik.
Pimpinan akhirnya hanya mendengar apa yang ingin didengarnya. Bawahan hanya menyampaikan apa yang dianggap aman. Masalah ditutupi. Kegagalan dipoles. Kritik dimatikan. Laporan dibuat seolah semuanya baik-baik saja. Padahal di bawah permukaan, persoalan semakin menumpuk.
Dalam situasi seperti ini, bukan hanya bawahan yang bermasalah. Pimpinan yang membangun lingkungan di mana orang takut berkata benar juga perlu melakukan introspeksi.
Sebab pemimpin yang hanya dikelilingi orang yang mengatakan "iya" berisiko kehilangan gambaran nyata tentang keadaan yang dipimpinnya.
Perebutan Jabatan Jangan Sampai Menghilangkan Harga Diri
Yang lebih memprihatinkan adalah ketika perebutan jabatan berubah menjadi pertarungan kepentingan.
Orang mulai mencari kedekatan. Membangun kelompok. Mencari dukungan. Menunggu kelemahan orang lain. Menjauhkan pesaing. Memuji penguasa. Bahkan terkadang mengorbankan teman dan prinsip demi peluang mendapatkan posisi.
Pertanyaannya sederhana:
Jika untuk mendapatkan jabatan seseorang harus mengorbankan integritas, apakah jabatan itu masih layak dikejar?
Bukankah jabatan pada akhirnya akan berakhir? Hari ini seseorang berada di atas. Besok bisa digantikan. Hari ini dipuji. Besok mungkin dilupakan. Hari ini memiliki kekuasaan. Suatu saat harus mempertanggungjawabkan bagaimana kekuasaan tersebut digunakan.
Karena itu, orang beriman seharusnya memahami bahwa yang menentukan kemuliaan manusia bukan kursinya, tetapi amanah yang dijalankannya.
Takut Kehilangan Jabatan, Takutlah Jika Kehilangan Amanah
Kehilangan jabatan bukan tragedi terbesar. Tragedi terbesar adalah ketika seseorang mempertahankan jabatan dengan cara yang merusak dirinya sendiri.
Kehilangan posisi dapat digantikan. Kehilangan fasilitas dapat dicari kembali. Kehilangan kekuasaan masih dapat diterima.
Tetapi ketika seseorang kehilangan keberanian untuk berkata benar, kehilangan rasa malu ketika melakukan kesalahan, dan kehilangan rasa takut kepada Allah, maka persoalannya jauh lebih serius.
Allah mengingatkan dalam QS. Ali Imran ayat 175 bahwa orang beriman tidak semestinya takut kepada pihak yang menakut-nakuti, melainkan hendaknya takut kepada Allah.
Pesannya jelas: jangan sampai ketakutan terhadap manusia mengalahkan ketundukan kepada Allah.
Kekuasaan Akan Berganti, Pertanggungjawaban Tidak
Setiap jabatan memiliki batas waktu. Setiap pemerintahan memiliki pergantian. Setiap organisasi memiliki regenerasi. Setiap kursi pada akhirnya akan ditempati orang lain.
Karena itu, mereka yang sedang berkuasa seharusnya tidak merasa akan berkuasa selamanya. Begitu pula mereka yang sedang mengejar jabatan jangan sampai menganggap kedudukan sebagai tujuan akhir kehidupan.
Sebab ketika kekuasaan berakhir, yang tersisa adalah rekam jejak. Apa yang pernah dilakukan? Siapa yang pernah dizalimi? Siapa yang pernah dibantu? Keputusan apa yang pernah dibuat? Apakah jabatan digunakan untuk kepentingan pribadi atau kepentingan orang banyak?
Dan yang paling penting: apakah amanah itu telah dipertanggungjawabkan di hadapan Allah?
Jangan Takut Kehilangan Kursi, Takutlah Kehilangan Kejujuran
Ruang publik membutuhkan manusia yang berani mengatakan benar sebagai benar dan salah sebagai salah. Bukan manusia yang setiap hari menghitung, "Kalau saya bicara, apakah jabatan saya aman?"
Jika semua orang berpikir demikian, maka sistem akan dipenuhi kepatuhan semu.
Tidak ada kritik. Tidak ada koreksi. Tidak ada keberanian. Yang tersisa hanyalah ABS.
Maka sudah saatnya budaya takut kepada atasan digantikan dengan keberanian menyampaikan kebenaran secara santun dan bertanggung jawab.
Jabatan boleh dikejar melalui prestasi dan kompetensi. Kekuasaan boleh dijalankan melalui mandat dan aturan. Kepemimpinan boleh dipertahankan melalui kinerja.
Tetapi iman jangan pernah dipertaruhkan demi sebuah kursi. Sebab kursi bisa hilang kapan saja. Jabatan bisa dicabut kapan saja. Atasan bisa berganti kapan saja. Tetapi Allah tetap ada.
Dan pada akhirnya, bukan jabatan yang akan ditanyakan, melainkan amanah yang kita jalankan ketika jabatan itu berada di tangan kita.




Posting Komentar untuk "Khawatir Hilang Jabatan, Ketika Takut kepada Atasan Menggerus Iman kepada Allah"