Oleh: Zulkifli Kepala SMAN 1 Lhoksukon

Zulkifli
Lhoksukon. Indometro. Id - Sekolah bukan tempat untuk saling menjatuhkan. Sekolah adalah tempat anak-anak belajar, tumbuh, menemukan jati diri, dan mempersiapkan masa depan. Karena itu, jangan bully temanmu, kawan!
Teman yang duduk di sebelahmu di kelas bukan datang ke sekolah untuk menjadi bahan ejekan. Ia datang dengan harapan yang sama: ingin belajar, ingin punya teman, ingin berkembang, dan ingin meraih masa depan.
Jangan jadikan kekurangan fisik sebagai bahan tertawaan. Jangan jadikan kondisi ekonomi keluarga sebagai alasan untuk merendahkan. Jangan mengejek logat bicara, warna kulit, bentuk tubuh, kemampuan akademik, pakaian, ataupun latar belakang keluarga seseorang.
Apa yang menurutmu hanya candaan, bisa menjadi luka yang dibawa seseorang bertahun-tahun.
Lebih berbahaya lagi ketika bullying dilakukan beramai-ramai. Satu orang tertawa, yang lain ikut menertawakan. Satu orang mengejek, yang lain merekam dan menyebarkannya ke media sosial. Akhirnya, korban merasa sendirian di tengah ratusan teman. Di sinilah karakter seorang pelajar diuji.
Berani bukan berarti berani mempermalukan teman. Kuat bukan berarti mampu membuat orang lain menangis. Hebat bukan berarti menjadi pusat perhatian karena merendahkan orang lain.
Justru keberanian yang sesungguhnya adalah ketika kita mampu melindungi teman yang sedang dilemahkan. Jika melihat teman dibully, jangan ikut tertawa. Jangan diam. Jangan menjadi penonton.
Hentikan. Tegur. Dampingi. Laporkan kepada guru atau pihak sekolah jika diperlukan.
SMAN 1 Lhoksukon harus menjadi ruang yang aman bagi setiap siswa. Tidak boleh ada siswa yang takut datang ke sekolah karena khawatir diejek, dipermalukan, dikucilkan atau disakiti oleh teman sendiri.
Kita boleh berbeda kemampuan, berbeda karakter, berbeda kondisi keluarga dan berbeda cita-cita. Tetapi kita memiliki satu kesamaan: kita sama-sama datang ke sekolah untuk belajar.
Hari ini mungkin kamu merasa lebih kuat daripada temanmu. Tetapi kehidupan tidak selamanya berada di atas. Bisa jadi suatu hari nanti justru orang yang pernah kamu remehkan menjadi orang yang menolong mu ketika kamu berada dalam kesulitan. Maka, sebelum mengeluarkan kata-kata yang menyakitkan, pikirkan terlebih dahulu:
Bagaimana jika yang diejek itu adalah adikmu? Bagaimana jika yang dipermalukan itu adalah keluargamu? Bagaimana jika kamu berada di posisi mereka?
Sekolah bukan arena untuk mencari siapa yang paling kuat. Sekolah adalah tempat kita belajar menjadi manusia. Mari kita bangun budaya sekolah yang saling menghargai. Tidak ada ruang bagi bullying, perundungan, penghinaan, kekerasan maupun pengucilan.
Perbedaan bukan alasan untuk merendahkan. Perbedaan adalah bagian dari kehidupan.
Bullying tidak selalu berupa pukulan. Kata-kata yang merendahkan, panggilan yang menyakitkan, mempermalukan teman di depan orang lain, mengucilkannya dari pergaulan, menyebarkan foto atau informasi untuk mempermalukan, hingga melakukan perundungan melalui media sosial juga dapat melukai seseorang.
Yang bagi kita mungkin hanya "bercanda", bagi orang lain bisa menjadi luka yang dibawa pulang. Karena itu, mari belajar membedakan bercanda dengan menyakiti.
Jika teman tertawa bersama, mungkin itu candaan. Tetapi jika teman terlihat tertekan, takut, menangis, menjauh, atau meminta kita berhenti, maka berhentilah. Jangan berlindung di balik kalimat, "Kan cuma bercanda." Candaan yang membuat orang lain terluka bukan lagi candaan yang sehat.
Sekolah Bukan Arena untuk Saling Menjatuhkan
Kita tidak pernah tahu perjuangan yang sedang dihadapi seseorang. Teman yang hari ini nilainya rendah mungkin suatu hari menjadi orang yang sangat berprestasi. Teman yang pendiam mungkin memiliki kemampuan luar biasa. Teman yang sederhana mungkin kelak menjadi pemimpin. Karena itu, jangan merasa paling hebat hanya karena hari ini kita berada satu langkah di depan.
Prestasi bukan alasan untuk merendahkan. Kekurangan bukan alasan untuk dihina.
Sekolah membutuhkan budaya saling menghargai. Guru mendidik, siswa belajar, dan seluruh warga sekolah menjaga agar lingkungan pendidikan tetap aman dan nyaman.
Jika melihat teman dibully, jangan ikut tertawa. Jangan menjadi penonton. Jangan pula memperkuat perundungan dengan merekam dan menyebarkannya. Berani berkata "Stop!" ketika melihat teman direndahkan justru merupakan bentuk keberanian yang sesungguhnya.
Laporkan kepada guru, wali kelas, guru BK, atau pihak sekolah jika perundungan terus terjadi. Membantu korban bukan berarti mencari musuh. Itu berarti kita sedang menjaga teman dan menjaga sekolah kita sendiri.
Kita Semua Ingin Dihargai
Sederhana saja.
Kita tidak ingin dihina. Kita tidak ingin dipermalukan. Kita tidak ingin dikucilkan. Kita ingin diterima sebagai manusia yang memiliki kekurangan sekaligus kelebihan.
Begitu pula teman kita. Maka sebelum berbicara, bertindak, atau mengunggah sesuatu tentang teman, tanyakan kepada diri sendiri:
"Kalau saya yang diperlakukan seperti ini, apakah saya akan merasa nyaman?"
Jika jawabannya tidak, jangan lakukan.
Mari jadikan sekolah sebagai tempat di mana setiap siswa dapat berkata:
"Saya aman di sini. Saya dihargai di sini. Saya boleh belajar dan berkembang di sini."
Kawan, kita datang ke sekolah bukan untuk mencari siapa yang paling kuat dan siapa yang paling lemah. Kita datang ke sekolah untuk belajar.
Belajar ilmu pengetahuan. Belajar disiplin. Belajar bertanggung jawab. Dan yang tidak kalah penting, belajar menjadi manusia yang mampu menghargai manusia lainnya.
Jangan bully temanmu.
Mereka adalah kawanmu. Mereka juga punya mimpi. Mereka juga punya masa depan. Dan mereka juga ingin belajar dengan tenang di sekolah, sama seperti kamu.
Kepada seluruh siswa SMAN 1 Lhoksukon:
Jangan bully temanmu, kawan. Jangan lukai hatinya. Jangan hancurkan kepercayaan dirinya. Jadilah teman yang menguatkan, bukan yang menjatuhkan. Karena setiap anak yang datang melewati gerbang sekolah membawa harapan. Jangan biarkan bullying menghancurkan harapan itu.



Posting Komentar untuk "Jangan Bully Temanmu, Mereka Datang ke Sekolah untuk Belajar"