Ruteng, NTT, Indometro.id – Warga Dusun Rura, Desa Rura, Kecamatan Reok Barat, Kabupaten Manggarai, Nusa Tenggara Timur (NTT), masih bertahan di tenda-tenda pengungsian darurat setelah gempa bumi tektonik magnitudo 7,7 mengguncang Flores pada Sabtu, 15 Agustus 2026 pagi.
Gempa yang terjadi sekitar pukul 05.30.00 WITA tersebut membuat warga panik dan berhamburan keluar rumah untuk menyelamatkan diri. Guncangan kuat menyebabkan sejumlah bangunan rumah warga mengalami kerusakan, bahkan sebagian di antaranya dilaporkan roboh.
Saat gempa terjadi, sebagian anak-anak, termasuk balita, masih tertidur di dalam rumah. Warga pun berusaha mengevakuasi mereka ke tempat yang dianggap lebih aman.
Setelah situasi mulai mereda, warga mendirikan posko dan tenda darurat di sekitar halaman rumah. Hingga kini, tenda-tenda tersebut masih dihuni warga, termasuk anak-anak dan warga lanjut usia (lansia).
Warga Keluhkan Minimnya Bantuan
Hasil pantauan di lokasi menunjukkan, warga terdampak gempa di Dusun Rura masih menghadapi keterbatasan kebutuhan dasar. Selain sembako, mereka membutuhkan tenda yang layak, terpal serta obat-obatan.
Sejumlah warga mengaku khawatir terhadap kondisi kesehatan anak-anak dan lansia yang tinggal di tenda pengungsian. Cuaca buruk, angin malam dan banyaknya nyamuk membuat sebagian pengungsi mulai mengalami keluhan seperti batuk dan flu.
Seorang warga, Tini, berharap pemerintah maupun pihak-pihak yang memiliki kepedulian terhadap korban bencana dapat memberikan bantuan tambahan.
“Mohon pak bantu kami obat-obatan, kasihan anak-anak dan para lansia kena sakit karena cuaca buruk,” kata Tini.
Menurut warga, bantuan dari pemerintah yang diterima pada Minggu, 23 Agustus 2026, merupakan bantuan pertama yang mereka terima sejak gempa terjadi.
Namun, jumlah bantuan yang diterima dinilai belum mampu memenuhi kebutuhan warga yang terdampak.
Dalam pembagian tersebut, warga menyebut setiap kepala keluarga (KK) mendapatkan sekitar satu kilogram beras. Sementara mi instan dibagikan satu bungkus untuk dua KK, telur satu butir per KK, serta minyak goreng dalam jumlah sangat terbatas.
Warga juga menyebut bantuan teh hanya diberikan dalam bentuk satu kantong celup untuk setiap KK.
Kondisi tersebut membuat sejumlah pengungsi kecewa. Mereka berharap distribusi bantuan berikutnya dapat dilakukan dengan jumlah yang lebih memadai, mengingat warga masih berada dalam situasi darurat.
Desa Rura Miliki 380 KK
Sekretaris Desa Rura, Fenansius Mongko, membenarkan bahwa jumlah warga yang harus mendapatkan bantuan cukup banyak.
Desa Rura tercatat memiliki sekitar 380 KK yang tersebar di lima dusun. Sementara bantuan yang diterima untuk kebutuhan warga di lima dusun tersebut antara lain sekitar 600 kilogram beras, lima dus mi instan, tiga ikat telur, tujuh dus minyak goreng dan 10 dus teh.
Menurut Fenansius, kehadiran lembaga maupun media di tengah masyarakat sangat membantu untuk melihat secara langsung kondisi warga pascagempa.
“Kami bangga dengan kehadiran lembaga dan media di tengah-tengah warga Desa Rura, terutama di Dusun Rura, untuk dapat memantau langsung perkembangan dan situasi saat ini akibat dampak gempa bumi beberapa hari yang lalu,” ujarnya.
Warga berharap kondisi mereka mendapat perhatian lebih serius, terutama karena kebutuhan pengungsian masih cukup besar. Selain makanan, mereka membutuhkan perlengkapan untuk melindungi diri dari hujan dan angin serta obat-obatan bagi warga yang mulai mengalami gangguan kesehatan.
Camat Reok Barat: Bantuan Sudah Sesuai Pembagian Kecamatan
Camat Reok Barat, Florentinus Laus Hadi, S.Pd., membenarkan adanya penyaluran bantuan bagi warga terdampak gempa di wilayah tersebut.
Menurutnya, bantuan yang disalurkan berupa beras, mi instan, telur dan air kemasan. Namun, saat proses pembagian, bantuan air mineral tidak tersedia.
“Bantuan berupa beras, mi instan, telur, air kemasan. Namun saat pembagian air mineralnya tidak ada,” ujar Florentinus.
Ia menjelaskan bahwa jumlah bantuan yang diterima warga memang terbatas karena harus dibagikan kepada banyak penerima terdampak gempa.
“Untuk sampai puas tidak mungkin, karena jumlah sumbangan yang ada sangat terbatas. Sementara penerimanya cukup banyak,” tambahnya.
Florentinus meminta warga tetap tenang dan beraktivitas di tempat-tempat yang aman.
“Kami minta warga masyarakat tetap tenang, tetap beraktivitas di tempat yang tidak berbahaya dan dapat menambah penghasilan,” imbaunya.
Bantuan Masih Dibutuhkan Pengungsi
Gempa Flores magnitudo 7,7 tidak hanya meninggalkan kerusakan pada rumah dan bangunan warga, tetapi juga membuat sebagian masyarakat harus tinggal sementara di tenda pengungsian.
Warga Dusun Rura berharap bantuan berikutnya dapat menyentuh kebutuhan yang paling mendesak, terutama beras, makanan siap konsumsi, air minum, minyak goreng, telur, terpal, tenda yang layak dan obat-obatan.
Kondisi anak-anak dan lansia menjadi perhatian utama karena mereka harus bertahan di tengah kondisi cuaca yang kurang bersahabat.
Warga juga berharap distribusi bantuan dapat dilakukan secara merata berdasarkan jumlah keluarga terdampak sehingga kebutuhan dasar masyarakat di wilayah yang terkena dampak gempa dapat terpenuhi selama masa tanggap darurat. (****)





Posting Komentar untuk "Warga Dusun Rura Reok Barat Masih Bertahan di Tenda Darurat, Keluhkan Minimnya Bantuan, Butuh Obat-obatan dan Tenda Pascagempa M7,7"