Oleh : Zulkifli, M.Pd Kepala SMAN 1 Lhoksukon
Aceh. Indometro. Id - Ada begitu banyak luka sejarah yang tidak cukup disembuhkan hanya dengan mengatakan bahwa perang telah berakhir. Begitu pula persoalan Aceh dan pemerintah pusat. Perdamaian memang telah membuka jalan baru, tetapi luka akibat konflik masa lalu, ketidakpercayaan, ketidakadilan yang dirasakan, serta berbagai persoalan yang belum sepenuhnya terselesaikan masih dapat meninggalkan jejak dalam ingatan masyarakat.
Karena itu, menjaga Aceh tetap damai membutuhkan lebih dari sekadar pendekatan keamanan dan administratif. "Pendekatan dialogis dan negosiasi persahabatan harus menjadi jalan utama untuk menyelesaikan persoalan yang masih tersisa."
Luka Lama Tidak Boleh Menjadi Api Baru
Konflik masa lalu telah membawa korban jiwa, harta dan juga penderitaan yang panjang. Ada keluarga yang kehilangan anggota keluarga, ada masyarakat yang kehilangan kesempatan hidup, dan ada generasi yang tumbuh dalam suasana ketakutan.
Ketika sebuah konflik berakhir, persoalan fisiknya mungkin berhenti, tetapi luka psikologis dan sosial tidak otomatis hilang.
Karena itu, pemerintah pusat maupun Pemerintah Aceh perlu memahami bahwa sebagian persoalan yang muncul hari ini tidak selalu dapat dilihat hanya sebagai persoalan politik. Di dalamnya mungkin terdapat akumulasi kekecewaan, harapan yang belum terpenuhi, dan persepsi bahwa sebagian kesepakatan perdamaian belum sepenuhnya dirasakan manfaatnya oleh masyarakat.
Oleh karenanya Luka yang belum benar-benar sembuh harus dirawat dengan kebijaksanaan, bukan disiram dengan minyak hingga membara kembali.
Dialog Lebih Kuat daripada Saling Curiga
Dalam situasi seperti ini, dialog bukan tanda kelemahan. Justru dialog menunjukkan bahwa para pihak memiliki kedewasaan untuk menyelesaikan perbedaan tanpa kekerasan.
Pemerintah pusat perlu membuka ruang komunikasi yang lebih luas dengan Pemerintah Aceh, ulama, akademisi, tokoh masyarakat, mantan kombatan, generasi muda, dan berbagai elemen masyarakat sipil.
Demikian pula para pemimpin Aceh perlu menyampaikan aspirasi daerah melalui jalur konstitusional dengan bahasa yang rasional, argumentatif, dan bermartabat.
Tidak semua persoalan harus diselesaikan melalui tekanan. Tidak semua perbedaan harus berakhir dengan pertentangan.
Kadang-kadang, sebuah persoalan yang tampak sulit justru dapat menemukan jalan keluar ketika para pihak duduk bersama, saling mendengar, dan bersedia memahami kepentingan masing-masing.
Negosiasi Persahabatan, Bukan Negosiasi Permusuhan
Aceh dan Jakarta tidak seharusnya terus-menerus ditempatkan dalam posisi "yang satu menuntut dan yang lain menolak".
Keduanya adalah bagian dari satu negara yang memiliki sejarah panjang. Karena itu, penyelesaian berbagai persoalan Aceh sebaiknya dilakukan melalui "negosiasi persahabatan".
Negosiasi persahabatan bukan berarti Aceh harus kehilangan keberanian menyampaikan tuntutan. Sebaliknya, pemerintah pusat juga tidak perlu merasa kehilangan wibawa ketika bersedia mendengar dan mengevaluasi kebijakan.
Pemerintah yang kuat bukan pemerintah yang tidak mau dikritik. Pemerintah yang kuat adalah pemerintah yang mampu mendengar kritik tanpa kehilangan arah.
Demikian pula pemimpin Aceh yang kuat bukan yang paling keras suaranya, tetapi yang mampu memperjuangkan kepentingan rakyat dengan cara yang efektif, damai, dan bermartabat.
Jangan Membiarkan Generasi Muda Mewarisi Konflik
Salah satu bahaya terbesar dari luka sejarah adalah ketika ia diwariskan kepada generasi berikutnya dalam bentuk kebencian.
Anak-anak Aceh tidak seharusnya tumbuh dengan mewarisi permusuhan antara Aceh dan pusat. Mereka harus mewarisi pelajaran sejarah, bukan dendam sejarah.
Generasi muda harus diberikan kesempatan untuk melihat masa depan Aceh melalui pendidikan, ekonomi, teknologi, lapangan kerja, pemerintahan yang bersih, dan pembangunan yang adil. Aceh membutuhkan masa depan yang lebih baik, bukan pengulangan masa lalu.
Pemerintah Pusat Harus Sensitif terhadap Aspirasi Aceh
Kedamaian tidak hanya dijaga dengan aparat dan aturan. Kedamaian juga dijaga dengan rasa keadilan. Jika masyarakat merasa didengar, dihargai, dan diperlakukan secara adil, maka kepercayaan akan tumbuh. Sebaliknya, jika aspirasi masyarakat terus diabaikan, kekecewaan dapat berkembang menjadi ketidakpercayaan.
Karena itu, pemerintah pusat perlu melakukan evaluasi secara terbuka terhadap berbagai persoalan yang masih menjadi ganjalan dalam hubungan Aceh dan pusat.
Apa yang telah disepakati perlu dihormati. Apa yang belum jelas perlu dibicarakan. Apa yang masih menimbulkan perbedaan tafsir perlu dinegosiasikan dengan kepala dingin.
Pemimpin Aceh Juga Harus Menjadi Jembatan
Pada saat yang sama, pemimpin Aceh memiliki tanggung jawab besar untuk menjadi jembatan antara rakyat Aceh dan pemerintah pusat. Jangan sampai aspirasi rakyat diterjemahkan menjadi kemarahan, sementara persoalan yang sebenarnya membutuhkan solusi justru berubah menjadi pertentangan politik.
Pemimpin harus mampu mengatakan kepada pusat ketika rakyat merasa tidak adil, tetapi juga mampu menjelaskan kepada rakyat bahwa setiap persoalan memiliki mekanisme penyelesaian. "Keberanian menyampaikan kritik harus berjalan bersama kebijaksanaan mencari solusi".
Perdamaian Aceh tidak boleh berhenti pada tidak adanya perang. "Perdamaian harus naik kelas menjadi keadilan, kesejahteraan, penghormatan terhadap kekhususan Aceh, pemerintahan yang bersih, kesempatan ekonomi, dan hubungan yang saling menghormati antara Aceh dan pemerintah pusat."
Jika perdamaian hanya dimaknai sebagai berhentinya senjata, maka pekerjaan rumah sejarah belum selesai. Tetapi jika perdamaian mampu menghasilkan keadilan dan kesejahteraan, maka generasi mendatang akan melihat bahwa pengorbanan masa lalu tidak sia-sia.
Aceh dan pusat tidak membutuhkan bahasa yang semakin mempertajam luka. Keduanya membutuhkan keberanian untuk duduk bersama. Bicarakan apa yang belum selesai. Evaluasi apa yang belum berjalan. Dengarkan apa yang dirasakan masyarakat. Cari titik temu tanpa mengorbankan prinsip konstitusi dan kepentingan rakyat.
"Dialog bukan menyerah. Negosiasi bukan kalah. Mengalah demi perdamaian bukan berarti kehilangan harga diri." Justru di situlah kedewasaan politik diuji. Aceh telah memiliki pengalaman pahit yang cukup panjang. Jangan biarkan luka lama berubah menjadi api baru.
Mari menyelesaikan persoalan Aceh dan pusat dengan "dialog, persahabatan, saling menghormati, dan komitmen menjaga perdamaian".
Sebab perdamaian yang sesungguhnya bukan sekadar tidak adanya suara senjata, melainkan ketika hati masyarakat mulai merasa aman, dihargai, didengar, dan memiliki masa depan yang adil di dalam rumah bersama bernama Indonesia.



Posting Komentar untuk "Pendekatan Dialogis dan Negosiasi Persahabatan: Menyembuhkan Luka Aceh dan Pusat"