Reduce bounce ratesindo Ketika yang Tak Beretika Bicara Etika - Indometro Media
☀️ --°C Medan
banner image

Ketika yang Tak Beretika Bicara Etika

Oleh : Zulkifli Kepala SMAN 1 Lhoksukon

Zulkifli

Aceh. Indometro. Id -
Ada sebuah ironi yang sering kita temui dalam kehidupan sosial, organisasi, dunia pendidikan, bahkan pemerintahan: orang yang perilakunya jauh dari etika justru paling lantang berbicara tentang etika.

Mantan koruptor berbicara panjang tentang bahaya korupsi. Orang yang tidak disiplin sibuk mengingatkan orang lain agar disiplin. Orang yang malas menasihati orang lain supaya rajin. Bahkan, orang yang tidak mampu mengemudikan kendaraan justru tampil percaya diri menjadi pemandu bagi orang lain tentang cara menyetir.

Bukan berarti seseorang yang pernah salah tidak boleh berbicara tentang kesalahan. Pengalaman masa lalu justru bisa menjadi pelajaran. Yang menjadi persoalan adalah ketika nasihat tidak sejalan dengan keteladanan, atau ketika seseorang menggunakan moralitas untuk menghakimi orang lain sementara dirinya sendiri belum mampu menjalankannya.

Ia mengajarkan orang lain tentang sopan santun, tetapi dirinya gemar merendahkan.

Ia berbicara tentang integritas, tetapi tindakannya penuh kepentingan.

Ia menuntut orang lain jujur, tetapi dirinya tidak selalu terbuka.

Ia berbicara tentang demokrasi, tetapi tidak siap menerima perbedaan pendapat.

Inilah yang disebut kemunafikan etis: menjadikan etika sebagai alat untuk menilai orang lain, tetapi lupa bahwa etika pertama-tama harus digunakan untuk menilai diri sendiri.

Etika Bukan Sekadar Kata-Kata

Etika bukan materi pidato. Bukan pula istilah yang digunakan untuk terlihat berwibawa di depan orang lain.

Etika adalah perilaku yang terlihat ketika seseorang berhadapan dengan kekuasaan, kepentingan, perbedaan pendapat, dan godaan keuntungan pribadi.

Orang yang benar-benar beretika tidak perlu terlalu sibuk mengumumkan bahwa dirinya beretika. Perilakunya yang akan berbicara.

Ketika mendapat jabatan, apakah ia tetap rendah hati?

Ketika memiliki kewenangan, apakah ia menggunakannya secara adil?

Ketika dikritik, apakah ia mampu menerima?

Ketika berbeda pilihan, apakah ia tetap menghormati orang lain?

Ketika tidak mendapatkan apa yang diinginkan, apakah ia masih mampu menjaga sikap? Di situlah etika diuji.

Ketika Nasihat Tidak Sejalan dengan Perilaku

Kita sering menemukan keadaan yang terasa janggal.

Mantan koruptor bicara korupsi. Ia boleh saja berbicara tentang bahaya korupsi, apalagi jika benar-benar telah berubah dan menjadikan masa lalunya sebagai pelajaran. Tetapi masyarakat tentu berhak menilai apakah kata-katanya telah didukung oleh perubahan perilaku.

Orang yang tidak disiplin bicara disiplin. Datang terlambat, tetapi paling keras menegur orang lain yang terlambat. Tidak menyelesaikan kewajiban tepat waktu, tetapi gemar menuntut orang lain bekerja sesuai jadwal.

Orang malas bicara rajin. Ia mengajarkan kerja keras, tetapi dirinya sendiri menghindari pekerjaan. Ia meminta orang lain produktif, sementara tanggung jawabnya sendiri sering ditinggalkan.

Keadaan seperti ini mengingatkan kita pada sebuah perumpamaan sederhana: orang yang tidak bisa menyetir tetapi ingin menjadi pemandu orang lain dalam menyetir. Bagaimana mungkin penumpang merasa yakin jika sang pemandu sendiri tidak memahami jalan dan cara mengendalikan kendaraan?

Masalahnya bukan semata-mata siapa yang berbicara. Masalahnya adalah kredibilitas antara ucapan dan tindakan.

Jangan Jadikan Etika Sebagai Senjata

Yang lebih berbahaya adalah ketika etika dijadikan senjata untuk membungkam orang lain.

Seseorang bisa saja mengatakan, “Kita harus beretika.” Tetapi pertanyaannya: etika untuk siapa?

Apakah etika hanya berlaku bagi orang yang berbeda pendapat dengan kita?

Apakah etika hanya berlaku bagi bawahan?

Apakah etika hanya berlaku bagi orang yang tidak memiliki kekuasaan?

Jika demikian, yang sedang dibicarakan bukanlah etika, melainkan standar ganda.

Etika yang sehat berlaku dua arah. Ketika kita menuntut orang lain menghormati kita, kita juga harus menghormati mereka. Ketika kita meminta orang lain menjaga ucapan, kita juga harus menjaga ucapan sendiri.

Jangan meminta orang lain bercermin sementara kita sendiri takut melihat wajah kita di cermin.

Jabatan Tidak Membuat Seseorang Lebih Beretika

Dalam organisasi, jabatan sering membuat seseorang merasa memiliki hak lebih besar untuk menentukan siapa yang dianggap beretika dan siapa yang tidak.

Padahal jabatan hanya memberikan kewenangan, bukan otomatis memberikan kemuliaan moral.

Seorang pimpinan tetap harus menghormati bawahannya.

Seorang pejabat tetap harus menghormati rakyat.

Seorang ketua tetap harus menghormati anggota.

Seorang guru tetap harus memberikan teladan kepada peserta didik.

Semakin tinggi posisi seseorang, seharusnya semakin tinggi pula tuntutan etikanya.

Sebab kekuasaan tanpa etika mudah berubah menjadi kesewenang-wenangan.

Etika Terlihat Ketika Kepentingan Bertabrakan

Mudah berbicara tentang etika ketika tidak ada kepentingan yang dipertaruhkan.

Ujian sebenarnya muncul ketika kepentingan pribadi bertabrakan dengan kepentingan bersama.

Apakah kita masih memilih keadilan ketika keputusan itu merugikan diri sendiri?

Apakah kita masih menghormati proses ketika hasilnya tidak sesuai keinginan?

Apakah kita masih menghargai demokrasi ketika kandidat yang kita dukung kalah?

Apakah kita masih mengakui kemampuan orang lain ketika orang tersebut menjadi pesaing kita? Di sinilah kualitas seseorang terlihat.

Etika bukan diuji ketika kita menang. Etika justru diuji ketika kita kalah, kecewa, tidak mendapatkan jabatan, atau kepentingan kita tidak terpenuhi.

Jangan Mengajarkan Etika Sebelum Memberikan Teladan

Masyarakat, organisasi, dan lembaga pendidikan tidak kekurangan orang yang pandai memberikan nasihat.

Yang sering kurang adalah orang yang mau menjadi contoh.

Anak-anak belajar etika bukan hanya dari buku.

Anggota organisasi belajar etika bukan hanya dari aturan.

Bawahan belajar etika bukan hanya dari instruksi pimpinan.

Mereka belajar dari apa yang mereka lihat dilakukan oleh orang yang berada di atas mereka.

Karena itu, seorang pemimpin yang ingin membangun budaya etis harus memulainya dari dirinya sendiri.

Jangan meminta disiplin jika dirinya tidak disiplin.

Jangan meminta kejujuran jika dirinya tidak transparan.

Jangan meminta penghormatan jika dirinya suka merendahkan.

Jangan berbicara demokrasi jika kritik dianggap sebagai pembangkangan.

Etika Dimulai dari Diri Sendiri

Pada akhirnya, pertanyaan terpenting bukanlah: “Apakah orang lain sudah beretika?” Tetapi: “Apakah saya sendiri sudah beretika?”

Sebelum menilai ucapan orang lain, periksa ucapan kita.

Sebelum menghakimi perilaku orang lain, periksa perilaku kita.

Sebelum menuntut penghormatan, tanyakan apakah kita sudah menghormati orang lain.

Dan sebelum berbicara panjang tentang etika, pastikan kehidupan kita sendiri tidak menjadi bukti yang membantah apa yang kita ucapkan.

Sebab etika yang hanya berada di mulut tidak akan mengubah apa pun. Etika baru memiliki nilai ketika diwujudkan dalam tindakan.

Jangan Bicara Etika Jika Perilaku Menyangkalnya

Kita tidak membutuhkan lebih banyak orang yang pandai mengucapkan kata etika.

Kita membutuhkan lebih banyak manusia yang hidup dengan etika.

Sebab pada akhirnya, manusia tidak akan dikenang karena seberapa sering ia berbicara tentang kebaikan, tetapi karena seberapa konsisten ia melakukan kebaikan ketika tidak ada yang melihat.

Maka, ketika seseorang yang tak beretika berbicara tentang etika, jangan buru-buru terpukau oleh kata-katanya.

Lihat perilakunya. Karena karakter tidak membutuhkan banyak penjelasan. Perilaku adalah bukti paling jujur dari siapa sebenarnya seseorang.

Posting Komentar untuk "Ketika yang Tak Beretika Bicara Etika"

PELUANG TIAP DAERAH 1 ?