Takengon. Indometro. Id - Muhammad SAg, putra kelahiran Silih Nara Kabupaten Aceh Tengah, 13 April 1969 pernah mendapatkan penghargaan dari Mantan Kepala Dinas (Kadisdik) Aceh, Drs Alhudri MM karena telah berhasil mebuka SMA Kelas Jauh di Kemukiman Pameu Kecamatan Rusip Antara.
Pameu merupakan kemukiman terpencil di Kabupaten Aceh Tengah berbatasan dengan Kabupaten Pidie Jaya.
Anak-anak Pameu banyak yang putus sekolah karena jarak tempuh yang jauh dari ibu kota kecamatan dan kabupaten.
Muhammad kepada media ini, Minggu (19/7/2026) menceritakan, saat itu ia menjabat Kepala SMA Negeri 19 Takengon di Kecamatan Rusip Antara.
Katanya, SMA Negeri 19 Takengon lebih dikenal dengan sebutan SMA Rusia, karena Rusip Antara singkatan dari Rusia.
Muhammad menjelaskan, SMA Rusia satu arah dengan Pameu walau pun agak jauh dan kondisi jalannya belum beraspal tapi bisa dilewati oleh kendaraan roda dua dan roda empat.
Diceritakannya, anak-anak Pameu banyak yang putus sekolah setelah menamatkan pendidikannya pada jenjang SMP/MTs.
"Sebelumnya memang ada Madrasah Aliyah Swasta (MAS) yang dibuka oleh salah seorang pegiat sosial dari Banda Aceh, tapi mengalami kendala," katanya.
Justru itu ungkapnya, ia melakukan musyawarah dengan pemuka masyarakat Pameu dengan berkoordinasi dengan 5 reje kampung Kemukimam Pamae dan Muspika Rusip Antara.
Lebih lanjut Muhammad menuturkan, tahun 2021 dibukalah SMA Kelas Jauh melalui Surat Keputusan (SK) dari Kepala Dinas Pendidikan (Kadisdik) Aceh.
"SMA Kelas Jauh proses belajar mengajarnya di Pameu dengan meminjam Gedung Serba Guna Kampung Tanjung di Kemukiman Pameu, sedangkan semua administrasinya tunduk di sekolah induk yaitu SMA Negeri 19 Takengon," jelasnya.
Ia menyampaikan, SMA Kelas Jauh ini tenaga pengajarnya dari SMA Negeri 19 Takengon baik PNS maupun honorer. Mereka diberikan uang honor dari Disdik Aceh.
Sehingga dikatakannya, masalah tenaga pengajar tidak ada kendala lagi. Bahkan hingga saat ini delapan tenagan orang guru honorer tersebut sudah diangkat menjadi Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja(P3K).
Muhammad mengutrakan, sejak terjadi bencana banjir bandang 26 November 2025 lalu, ia berusaha bergerak secara cepag untuk mencari internatif untuk menghungi salah seorang pimpinan dayah di Kampug Kuala Rawa setempat.
Muhammad melakukan kerja sama dengan pimpinan dayah untuk meminjam sementara ruangan darurat dan disetujui.
"Alhamdulilah pimpinan dayah dengan ikhlas memberikan fasilitas dua ruangan belajar untuk dipakai hingga sekarang," cetusnya.
Dikatakan Muhummad, saat dirinya di mutasi dari SMA Negeri 19 Takengon ke SMA Negeri 6 takengon. Namun semangat dan perhatiannynya tidak berubah untuk bekerja sama dgn tokoh-tokoh masyarakat di Pameu dan selalu berkoordinasi dengan Kepala SMA Negeri 19 yang baru, Sugiono MPd.
Ia mengungkapkan, pada saat ini keluhan wali murid dan para guru serta tokoh masyarat di Kemukiman Pameu hendaknya Pemerintah Aceh melalui Dinas Pendidikan Aceh mengharapkan SMA Kelas jJuh hendaknya dipisahkan dengan SMA Negeri 19 Takengim sebahai sekolah induk.
Kata Muhammad, alasan mereka adalan agar pembangun gedung sekolah yaitu sarana dan prasarana dapat diusulkan ke Pemerintah Aceh dan pusat.
Kemudian di samping itu, ada beberapa tenaga guru pendidik yang telah lulus sertifikasi dan tidak mendapatkan jam mengajar di sekolah induk.
"Karena SMA Kelas Jauh masih tunduk dan induknya juga statusnya aras nama SMA Negeri 19 Takengon, maka akan sulit diusulkan berdiri sendiri," tandasnya.
Tapi kata Muhammad, pemerintah pusat sudah memberikan lampu hijau untuk sekolah tersebut berdiri sendiri dengan syarat usulan dari tokoh masyarakat Kemukiman Pameu yang disetujui oleh Kepala SMA Negeri 19 Banda Aceh.
"Dukungan dan rekomendasi dari Cabang Dinas Pendidikan Wiilayah Kabupaten Aceh Tengah dan Dinas Pendidikan Aceh harus ada yang diusulkan ke Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah ke pusat,' tutupnya.(*)




Posting Komentar untuk "Kepala SMA Berdedikasi Membuka Kelas Jauh di Pameu, Kini Jabat Kepala SMAN 6 Tekengon"