SUBANG, INDOMETRO.ID - Kebijakan rekrutmen PT Ujump menuai kritik tajam dari masyarakat setempat. Menanggapi pernyataan pihak manajemen perusahaan, perwakilan warga Gunungsari berinisial YSMN angkat bicara mengenai adanya dugaan ketidakadilan dalam proses seleksi karyawan.
YSMN menilai alasan-alasan yang disampaikan manajemen PT Ujump terkesan subjektif dan menutupi realita di lapangan. Ia menyoroti standar tinggi badan (TB) minimal 170 cm yang dijadikan dalih untuk menggugurkan calon tenaga kerja lokal.
“Alasan itu bisa saja dibuat oleh pihak PT Ujump. Faktanya, kenapa banyak pekerja yang bukan warga lokal dengan tinggi badan kurang dari 170 cm justru bisa masuk kerja? Kenapa perusahaan tidak memprioritaskan pribumi dulu?” cetus YSMN dengan nada tanya.
Keresahan warga semakin memuncak terkait adanya pemanggilan ulang seleksi kedua. Menurut YSMN, prosedur tersebut dianggap tidak efisien dan membingungkan, terutama bagi warga lokal yang sudah mengikuti tahapan awal.
“Lalu kenapa harus ada pemanggilan ulang yang kedua kali untuk seleksi? Jika memang butuhnya minimal 170 cm, mengapa aturan tersebut tampak tebang pilih dan tidak konsisten di lapangan?” lanjutnya.
Warga Gunungsari berharap PT Ujump dapat lebih terbuka dan memberikan kuota prioritas bagi masyarakat sekitar sebagai bentuk tanggung jawab sosial perusahaan terhadap lingkungan terdekat. Hingga saat ini, warga masih menunggu itikad baik dan penjelasan transparan dari manajemen PT Ujump mengenai standar rekrutmen yang dinilai diskriminatif tersebut.
Sebelumnya di Beritakan, Manajer PT Ujump, Asep, memberikan klarifikasi terkait pemberitaan mengenai calon tenaga kerja asal Desa Gunungsari yang tidak lolos seleksi akibat kualifikasi tinggi badan. Asep menegaskan bahwa standar tersebut bukan merupakan aturan administratif semata, melainkan prosedur vital demi efektivitas dan keselamatan kerja di posisi tertentu.
“Standar ini hanya berlaku untuk posisi spesifik yang dilamar saat ini, tidak untuk seluruh departemen. Kami harus mempertimbangkan faktor efektivitas dan keamanan agar terhindar dari risiko kecelakaan kerja,” ujar Asep dalam keterangannya melalui pesan Watshapnya, Rabu (11/3).
Ia menjelaskan bahwa setiap posisi memiliki karakteristik teknis yang berbeda. Namun, manajemen memastikan bahwa peluang bagi warga lokal tetap terbuka lebar pada formasi lain yang tidak memerlukan syarat fisik serupa.
“Bagi warga sekitar yang belum sesuai kualifikasi di posisi tersebut, masih sangat terbuka untuk mencoba di posisi lainnya. Sebagai contoh, untuk posisi mekanik sewing, tidak ada ketentuan (tinggi badan) seperti itu. Jadi, kami sama sekali tidak menutup rapat peluang kerja melalui aturan administratif,” tambahnya.
Terkait prioritas tenaga kerja, PT Ujump berkomitmen penuh untuk memprioritaskan putra daerah. Asep menyebutkan bahwa koordinasi dengan pemerintah desa terus dilakukan secara intensif setiap kali perusahaan membutuhkan tambahan personel.
“Kami sangat mengutamakan warga sekitar. Pihak pertama yang kami hubungi saat ada kebutuhan tenaga kerja adalah pihak desa. Kami merasa sangat terbantu apabila ada warga asli Gunungsari yang sesuai dengan kualifikasi perusahaan,” tegas Asep.
Menutup pernyatannya, Asep kembali menekankan bahwa kebijakan yang diambil murni didasarkan pada pertimbangan teknis di lapangan. Ia mengajak warga yang belum berhasil dalam seleksi sebelumnya untuk tidak berkecil hati dan mencoba melamar kembali pada posisi yang lebih sesuai dengan kompetensi masing-masing


Posting Komentar untuk "Polemik Seleksi PT Ujump Subang, Warga: Kenapa Pekerja Non-Lokal Bertinggi Badan Kurang 170 cm Bisa Masuk?"