Indometro.id Tanggamus — Proyek revitalisasi Cagar Budaya Batu Bedil yang berlokasi di dusun Batu Bedil,Pekon Gunung Meraksa Kecamatan Pulau Panggung, Kabupaten Tanggamus, terus menuai sorotan masyarakat. Proyek yang digarap oleh Balai Besar Cagar Budaya (BBCB) Wilayah V Bengkulu tersebut tercantum memiliki nilai pagu anggaran sebesar Rp2,8 miliar, sebagaimana tertera pada papan informasi kegiatan di lokasi.
Namun, berdasarkan pantauan di lapangan, pekerjaan yang terlihat dinilai belum sebanding dengan besarnya anggaran tersebut. Sejumlah kegiatan yang dikerjakan meliputi pembangunan gerbang situs, pembuatan lahan parkir, pembangunan jalan trek di area cagar budaya, serta renovasi kantor berukuran kurang lebih 8 x 12 meter, renovasi atap bangunan batu prasasti, dan pembangunan fasilitas toilet. Hingga kini, belum tampak adanya pembangunan fasilitas edukatif skala besar yang dapat menunjang fungsi pelestarian maupun pengembangan wisata sejarah secara maksimal.
Sorotan juga datang dari unsur pemerintahan pekon setempat. Kepala Pekon Batu Bedil, Sahdin Al Mahatta, mengaku dirinya tidak dilibatkan dalam pelaksanaan proyek revitalisasi cagar budaya tersebut. Ia menyebut tidak ada koordinasi dari pihak kontraktor, pemborong, maupun Balai Besar Cagar Budaya Wilayah V Bengkulu kepada pemerintah pekon.
“Saya memang sempat datang ke lokasi proyek, tapi tidak pernah bertemu dengan pihak kontraktor ataupun dari balai besar. Saya hanya bertemu dan disambut oleh petugas pengelola situs yang ada di lingkungan tersebut,” ujar Sahdin.
Terkait besaran anggaran, Sahdin mengungkapkan bahwa dirinya tidak pernah menerima informasi resmi mengenai nilai pagu proyek. Ia menyebut, angka Rp2,8 miliar tersebut hanya ia dengar dari keterangan pengelola situs, bukan dari papan informasi proyek ataupun penjelasan tertulis dari pelaksana kegiatan.
“Soal anggaran Rp2,8 miliar itu, saya tahunya juga hanya dari pengelola situs. Saya sendiri tidak tahu plang anggaran itu dipasang di mana,” tambahnya.
Sementara itu, warga Pekon Batu Bedil turut menyampaikan penilaian kritis. Salah satunya Arianto, warga Kecamatan Talang Padang yang berasal dari Pekon Batu Bedil, menilai realisasi pembangunan tidak sebanding dengan besarnya anggaran yang dialokasikan.
“Kalau melihat di lapangan, revitalisasi ini hanya menyentuh pintu gerbang, pagar situs batu tulis, renovasi kantor kecil, trek jalan di dalam situs, dan toilet. Dengan anggaran Rp2,8 miliar, hasilnya jauh dari kata wajar,” ujar Arianto.
Warga juga membandingkan besaran anggaran revitalisasi Cagar Budaya Batu Bedil dengan proyek revitalisasi sekolah. Berdasarkan perbandingan yang mereka ketahui, pembangunan enam ruang kelas lengkap dengan satu gedung fasilitas UKS rata-rata menghabiskan anggaran sekitar Rp800 juta. Artinya, nilai revitalisasi Cagar Budaya Batu Bedil setara dengan pembangunan kurang lebih tiga sekolah berskala besar, sehingga memunculkan pertanyaan publik mengenai efektivitas dan peruntukan anggaran.
Atas kondisi tersebut, sebagian masyarakat menilai proyek ini patut dipertanyakan dari sisi perencanaan dan output. Bahkan, berkembang dugaan di tengah warga bahwa kegiatan tersebut terkesan sebagai proyek berskala kecil dengan anggaran besar, yang dilaksanakan menjelang akhir tahun anggaran. Meski demikian, warga berharap Balai Besar Cagar Budaya Wilayah V Bengkulu dapat memberikan penjelasan terbuka terkait rincian pekerjaan, tahapan revitalisasi, serta penggunaan anggaran secara detail agar tidak menimbulkan polemik berkepanjangan.
Hingga berita ini diterbitkan, pihak Balai Besar Cagar Budaya Wilayah V Bengkulu belum memberikan keterangan resmi terkait sorotan dan penilaian warga tersebut. Redaksi membuka ruang klarifikasi dan hak jawab guna memberikan informasi yang berimbang kepada publik.(Tim)
Red.






Posting Komentar untuk "Transparansi Output Revitalisasi Cagar Budaya Dipertanyakan, Anggaran Besar Dampak Kecil..!!"