Ticker

6/recent/Ticker-posts

'Kartini-kartini' Muhammadiyah di Garis Depan Penanganan Covid-19

Tim Gugus Tugas COVID-19 Memakai APBD  Sebelum Merawat Pasien Virus Corona
indometro.id - Setiap tanggal 21 April, selalu diperingati dengan Hari Kartini. Perjuangan pahlawan perempuan dari Jepara Jawa Tengah, yang ingin perempuan-perempuan keluar dari belenggu. Namun peringatannya di tahun 2020 ini sedikit berbeda, lantaran mewabahnya virus corona atau Covid-19.
Para dokter hingga tenaga medis yang berada di garis depan dalam membasmi virus mematikan ini, kini terus berjuang. Bahkan tidak sedikit, pejuang itu adalah dari kalangan perempuan yang berada di garis depan dalam penanganan Covid-19 ini. Mereka adalah 'Kartini' di tengah pandemik saat ini.
Di lingkungan Persyarikatan Muhammadiyah, juga memiliki banyak 'Kartini' yang tengah berjuang di garis depan penanganan Covid-19. Muhammadiyah melibatkan 76 rumah sakit di seluruh Tanah Air dalam membantu penanganan virus ini. Tim dokter dan tenaga kesehatan yang ada di dalamnya, tidak sedikit dari kalangan perempuan.
Diantaranya adalah Dokter Iin Inayah (48), yang bertugas di Rumah Sakit Islam Pondok Kopi, Jakarta Timur. Dalam siaran pers resmi Muhammadiyah Covid-19 Command Center (MCCC), mengupas kisah Dokter Iin dalam menangani Covid-19 di Hari Kartini ini.
"Dalam mengatasi pandemi ini kami dihadapkan pada situasi pekerjaan yang penuh dinamika, tidak menentu, susana kerja bisa berubah sewaktu-waktu. Awalnya kami hanya bersiap dengan APD sederhana (masker bedah) kemudian membentuk tim Covid-19 hingga akhirnya rumah sakit menambah fasilitas layanan berupa pos screening dan Pos KLB (kejadian luar biasa)," cerita Dr Iin, Selasa 21 April 2020.
Ia berkisah, awalnya situasi di RS Islam Pondok Kopi biasa saja. Namun pada suatu hari, ada pasien yang berobat ke poli spesialis paru. Gejalanya diantaranya batuk-batuk. Setelah dilihat hasilnya, ternyata menunjukkan gejala covid, sehingga dimasukkan sebagai Pasien Dalam Pemantauan atau PDP. Kemudian diisolasi di ICU. Seketika, mereka langsung bergerak cepat. Diakuinya, ada kehebohan dan kepanikan.
Sebagai perempuan dan rekan-rekannya yang lain di RS Islam Pondok Kopi Jakarta Timur itu, kemudian harus bersiap-siap dengan peralatan lengkap. Yang dari awal hanya alat pelindung diri atau APD sederhana, kini oleh pihak rumah sakit diberi yang lebih safety.
Dalam kondisi pandemik, kerap kali pihaknya juga menghadapi beragam pasien. Sebagai seorang perempuan, Dr Iin mengatakan tetap harus melayani segala macam jenis pasien yang berobat tersebut.
"Contohnya kami menghadapi beberapa pasien paranoid, emosional, merasa diri paling gawat sehingga membuat pernafasan sesak sampai pingsan," ceritanya.
Kecemasan pasti. Ia mengakui itu. Kekhawatiran akan ikut terpapar, mengingat tidak sedikit dokter dan tenaga medis yang turut menjadi korban, kerap membayangi dirinya dan seluruh tenaga medis yang ada.
"Tapi ibarat musuh sudah didepan mata, tak ada waktu lagi untuk mengelak selain harus terus maju melayani," katanya.
Hingga kini di Rumah Sakit Muhammadiyah dan Aisyiyah (RSMA) yang terlibat aktif dalam merawat pasien Covid-19 tercatat 576 dokter, 2.496 perawat dan 1.815 petugas pelaksana administrasi wanita yang menjalankan pelayanan kepada para pasien.
Peran 'Kartini' masa kini di tengah pandemik Covid-19 juga, tidak hanya di lingkungan rumah sakit. Bahkan dalam pencegahan di tengah-tengah masyarakat. Penyemprotan disinfektan misalnya. Menggendong tabung yang berbobot untuk penyemprotan, tidak hanya dilakukan oleh laki-laki. Tapi perempuan juga ikut terjun.
Diantaranya adalah Dewi dari MCCC Banten dan Winarni Santoso (Wiwin) dari Kabupaten Cilacap. Tak terhitung keduanya menggendong tabung disinfektan itu mengelilingi berbagai tempat umum hingga amal usaha Muhammadiyah, untuk membasmi penyebaran virus tersebut.
Untuk melakukan penyemprotan, tak jarang mereka juga ikut dalam tim BPBD di daerah masing-masing. Bahkan, dengan perjuangannya itu, masyarakat tak segan-segan memberi apresiasi.
Itu terlihat saat Dewi melakukan penyemprotan disinfektan atas virus corona di kawasan Poris Gaga, Batu Ceper, Kota Tangerang bersama dua orang relawan wanita Muhammadiyah lainnya. "Kami diberi bingkisan kenang-kenangan sebagai tanda terima kasih dan motivasi semangat untuk terus bergerak. Itu kami rasakan sebagai perhatian istimewa bagi kami yang bergerak karena kerelawanan ini," katanya.




Berita ini sudah terbit di vivanews