Ticker

6/recent/Ticker-posts

Komentar Sri Mulyani soal Dampak Covid-19 ke Ekonomi RI

Menteri Keuangan Sri Mulyani 
JAKARTA, indometro.id – Pandemik corona atau Covid-19 telah menekan ekonomi sejumlah negara. Virus yang berkembang di China ini mulai mewabah di beberapa negara termasuk Indonesia.
Pertumbuhan ekonomi dunia terkoreksi, bahkan pemerintah telah menyiapkan susunan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara-Perubahan (APBNP) 2020 karena virus corona.
Menteri Keuangan Sri Mulyani tak menampik jika virus corona ini menjadi beban bagi ekonomi Indonesia. Beberapa sektor seperti pariwisata dan perdagangan perlahan ‘mati’ karena terinfeksi virus corona.
Berikut adalah beberapa pandangan Sri Mulyani mengenai Covid-19 yang dirangkum Okezone.com:
1. Dampak ke Pariwisata dan Perdagangan
Sri Mulyani mengatakan, perekonomian dunia dan Indonesia terdampak penyebaran virus corona. Bahkan proyeksi ekonomi dunia direvisi dipangkas karena pandemi corona.
Sementara dampak ke ekonomi Indonesia dimulai dari sektor pariwisata. Mantan Direktur Pelaksana Bank Dunia ini menjelaskan, selain sektor pariwisata ada sektor perdagangan ekspor impor yang terganggu.
“Jalur pariwisata jelas, distribusi dari perdagangan dan pasokan, dulu kita mungkin dua minggu terakhir kita melihat 27% impor nonmigas dari Tiongkok, 16,7% ekspor kita ke Tiongkok. Jadi apakah China akan mengendalikan dan me-recover itu akan sangat menentukan kita, dari sisi ekspor, impor dan pariwisata,” jelasnya.
2. Kebijakan Moneter untuk Lawan Corona
Negara-negara G20 berkomitmen untuk mencegah terjadinya resesi ekonomi akibat virus corona atau covid-19. Salah satu yang menjadi ancaman adalah modal yang keluar alias capital flight yang dialami sejumlah negara.
“Dari kebijakan moneter, termasuk kebijakan suku bunga dan relaksasi, termasuk support likuiditas. Dari sisi nilai tukar, karena sekarang ini terjadi tadi IMF mengatakan banyak negara menghadapi masalah capital flight,” ujar Menkeu Sri Mulyani dilansir dari laman Setkab, Jumat (27/3/2020).
Untuk itu, Menkeu menyampaikan banyak negara emerging dan low income country akan dihadapkan pada likuiditas foreign exchange dan sekarang sedang dilakukan upaya untuk meningkatkan kemampuan mendukung apa yang disebut direct swap line dari IMF kepada semua negara di dunia yang mengalami capital flight.
Menurutnya, hal ini adalah unprecendented yang artinya belum pernah terjadi dan akan menjadi salah satu terobosan untuk mencegah negara-negara yang sebetulnya tadinya tidak mengalami masalah sekarang akan mengalami risiko dari sisi foreign exchange maupun likuiditasnya.
“Di bidang perbankan, banyak dilakukan relaksasi. Di bidang fiskal, banyak semua negara melakukan instrumen dan intervensi fiskal. Pertama, semuanya adalah berfokus kepada masalah kesehatan,” tambahnya.
3. Krisis Kemanusiaan akibat Corona
Sri Mulyani Indrawati mengatakan, pandemi virus corona ini bahkan sudah mendapatkan perhatian dari negara-negara anggota G-20. Seluruh negara yang tergabung didalamnya mencari cara agar pandemik corona ini tidak menimbulkan dampak lebih dalam pada perekonomian.
"Yang tadi kita rekam dengan adanya G20 melakukan pertemuan extraordinary yang kita baca dan dengar di semua negara, sekarang- seluruh dunia sedang hadapi krisis di bidang kemanusiaan. Yang sedang diupayakan jangan sampai krisis kesehatan mempengaruhi sangat dalam pada krisis ekonomi, sosial dan keuangan," ujarnya.
4. Pelemahan Rupiah
Bagi Indonesia lanjut Sri Mulyani, dampak virus corona ini sudah mulai terasa bagi perekonomian dalam negeri. Salah satu contohnya adalah terus melemahnya nilai tukar rupiah hingga saat ini sudah mendekati angka Rp17.000 per USD.
"Ekonomi kontraksi tapi tidak berarti krisis. Ini yang sedang dilakukan. Agar krisis ini tidak timbulkan spill over ke krisis ekonomi sosial dan terutama di sektor keuangan seperit yang terjadi di 2008 2009 di mana bank-bank dan lembaga keuangan bangkrut," jelasnya.
5. Ekonomi Global Terkoreksi
Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengatakan, dana moneter dunia atau International Monetary Fund (IMF) bahkan memprediksi jika ekonomi global tumbuh negatif pada tahun ini. Angka ini jauh di bawah dari angka proyeksi sebelumnya yang mana ekonomi global dipredikis tumbuh di atas 3%.
"Di dalam pembukaannya Managing Director IMF menyampaikan tahun 2020 proyeksi ekonomi global akan negatif, ini jauh lebih rendah dari yang dibayangkan di atas 3%," ujarnya dalam teleconfrence, Selasa (24/3/2020) malam.
6. Corona Picu Krisis
Mantan Direktur Pelaksana Bank Dunia ini menyebut ketidakpastian ekonomi global akibat covid-19 ini bisa menimbulkan krisis seperti 2008. Bahkan menuruntya, IMF memperkirkansituasi pada saat ini bisa lebih buruk mengingat penyebaran virus corona ini bergerak cukup cepat dan semakin meluas.
"Menteri Keuangan Arab Saudi menyatakan dunia menghadapi ancaman Covid-19 yang sejak Februari berkembang cepat dan ganas," jelasnya.
7. Lindungi Aset Kemenkeu
Menteri Keuangan Sri Mulyani meminta kepada seluruh pimpinan Kementerian Keuangan (Kemenkeu) agar memaksimalkan proses kerja dari rumah atau istilah bekennya work from home imbas penyebaran virus corona atau Covid-19.
Sri Mulyani menambahkan, untuk pekerjaan yang dilakukan di kantor adalah sesuatu yang bersifat urgent. "Tolong lindungi aset terbesar Kemenkeu, 80.000 pegawai yang saya cintai, untuk saya," kata Sri Mulyani.
8. Corona Tekan Ekonomi RI
Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati memprediksi pertumbuhan ekonomi di kuartal I-2019 akan mengalami tekanan dan hanya tumbuh 4,5 hingga 4,9%. Hal itu, imbas dari wabah virus corona yang menyebar begitu cepat.
Meskipun begitu lanjut Sri Mulyani, angka pertumbuhan ekonomi ini masih relatif lebih baik dibandingkan beberapa negara di dunia. Salah satu contohnya saja adalah CHina, yang mana pertumbuhan ekonominya justru berada di angka negatif
"Pertumbuhan ekonomi ini capai 4,5% sampai 4,9% tapi ini beberapa faktor cukup positif dibandingkan China yang mengalami negatif," ujarnya dalam acara video conference di Jakarta, Rabu (18/3/2020).
9. Siapkan Anggaran Lockdown
Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengatakan, pihaknya telah memikirkan langkah-langkah jika nanti situasi semakin memburuk. Termasuk juga ketersediaan anggaran ketika keputusan lock down akan dilakukan pemerintah.
"Pasti akan disiapkan jadi untuk memutuskan suatu daerah apakah akan dilakukan suatu isolasi pasti sudah dipikirkan juga bagaimana supportingnya bahkan sampai masalah di desa, kalau di desa atau tempat yang pemukimannya cukup padat sehingga social distanciang yang sulit," ujarnya dalam video conference di Jakarta, Rabu (18/3/2020).
Menurut Sri Mulyani, anggaran yang disiapkan juga termasuk untuk memastikan ketersediaan sumber daya seperti bahan makanan bisa tercukupi. Sehingga masyarakat tidak mengalami kepanikan ketika situasi lock down harus dilakukan.

Berita ini sudah terbit di OKEfinance

Artikel Terkait