Ketika Layar Lebih Menarik daripada Buku, Guru, dan Pengetahuan
Oleh: Zulkifli, M.Pd Kepala SMAN 1 Lhoksukon

Zulkifli, M.Pd
Aceh. Indometro. Id - Ada persoalan serius yang sedang dihadapi dunia pendidikan kita. Bukan semata-mata rendahnya kemampuan akademik siswa, bukan pula hanya persoalan kurikulum dan kualitas guru. Ada satu fenomena yang perlahan-lahan menggerogoti konsentrasi dan kemampuan berpikir generasi muda: ketergantungan terhadap gadget.
Hari ini, tidak sedikit siswa yang lebih cepat merespons bunyi notifikasi telepon genggam daripada instruksi guru di ruang kelas. Mereka bisa berjam-jam menatap layar, tetapi merasa kesulitan bertahan beberapa menit untuk membaca buku. Mereka begitu antusias mengikuti perkembangan media sosial, tetapi sering kehilangan kesabaran ketika harus memahami materi pelajaran yang membutuhkan konsentrasi dan proses berpikir mendalam.
Inilah tantangan pendidikan yang tidak boleh dianggap sepele.
Ketika Gadget Menguasai Perhatian
Gadget sesungguhnya bukan musuh pendidikan. Jika digunakan secara tepat, teknologi dapat menjadi sumber informasi, media pembelajaran, dan sarana memperluas wawasan.
Namun, persoalannya muncul ketika fungsi gadget berubah. Dari alat bantu belajar menjadi pusat perhatian, bahkan menjadi kebutuhan yang sulit ditinggalkan.
Siswa terbiasa memperoleh hiburan secara instan. Video pendek, permainan daring, media sosial, dan berbagai konten digital menawarkan kesenangan tanpa harus melalui proses berpikir yang panjang.
Akibatnya, aktivitas belajar yang membutuhkan kesabaran, ketekunan, membaca, menganalisis, dan memecahkan masalah sering terasa membosankan.
Padahal, kecerdasan tidak tumbuh dari kebiasaan memperoleh sesuatu secara instan. Kecerdasan dibangun melalui proses, latihan, kesalahan, pengulangan, dan kemampuan menghubungkan berbagai pengetahuan.
Jika perhatian siswa terus-menerus terpecah, bagaimana mungkin proses pembelajaran dapat berlangsung secara optimal?
Guru Mengajar, Pikiran Siswa Berada di Dunia Lain
Kita sering membicarakan tuntutan agar guru menerapkan pembelajaran mendalam (deep learning), pembelajaran berbasis masalah (problem-based learning), diskusi, proyek, dan pendekatan pembelajaran inovatif lainnya.
Tetapi ada pertanyaan mendasar: bagaimana pembelajaran mendalam dapat diwujudkan jika siswa sendiri sulit melepaskan perhatiannya dari gadget?
Guru menjelaskan, siswa belum tentu menyimak. Guru memberikan pertanyaan, siswa menunggu jawaban instan. Guru meminta mereka membaca dan menganalisis, sebagian justru lebih tertarik membuka layar telepon genggam.
Situasi seperti ini tentu menjadi pekerjaan rumah bersama.
Kita tidak bisa terus-menerus menuntut guru meningkatkan kualitas pembelajaran, sementara lingkungan belajar tidak mendukung tumbuhnya konsentrasi, kedisiplinan, dan budaya membaca.
Pembelajaran yang mencerdaskan membutuhkan keterlibatan pikiran siswa, bukan sekadar kehadiran fisik mereka di dalam kelas.
Jangan Sampai Siswa Kehilangan Kemampuan Berpikir
Pendidikan bukan sekadar memindahkan informasi dari buku ke kepala siswa. Pendidikan harus membangun kemampuan berpikir kritis, kreatif, bernalar, berkomunikasi, dan mengambil keputusan.
Siswa harus dibiasakan bertanya, bukan hanya menerima jawaban. Mereka harus mampu membaca persoalan, bukan sekadar mencari jawaban di mesin pencari. Mereka harus berani menyampaikan pendapat dengan argumentasi, bukan hanya menyalin informasi dari internet.
Teknologi memang memudahkan manusia mendapatkan informasi. Tetapi mendapatkan informasi tidak sama dengan memahami pengetahuan. Menyalin jawaban juga tidak sama dengan memiliki kemampuan berpikir.
Jika semua persoalan diselesaikan dengan mencari jawaban instan, kapan siswa berlatih menggunakan kemampuan berpikirnya sendiri?
Jangan sampai sekolah menghasilkan generasi yang mahir mengoperasikan perangkat digital, tetapi kesulitan menyampaikan gagasan, membaca persoalan, dan mengambil keputusan secara mandiri.
Sekolah Harus Berani Mengatur Penggunaan Gadget
Sudah saatnya sekolah memiliki kebijakan yang jelas mengenai penggunaan telepon genggam oleh siswa selama proses belajar mengajar.
Bukan berarti sekolah menolak kemajuan teknologi. Justru sebaliknya, sekolah harus mengajarkan bagaimana teknologi digunakan secara bijak, bertanggung jawab, dan sesuai kebutuhan.
Penggunaan gadget di kelas harus berdasarkan tujuan pembelajaran dan arahan guru. Jika tidak dibutuhkan, siswa sebaiknya menyimpan telepon genggam selama pembelajaran berlangsung.
Guru juga perlu membangun kembali budaya membaca, menulis, berdiskusi, berhitung, melakukan pengamatan, dan menyelesaikan persoalan tanpa selalu bergantung pada perangkat digital.
Orang tua pun memiliki tanggung jawab yang tidak kalah penting. Pengawasan penggunaan gadget di rumah harus berjalan seiring dengan kebijakan sekolah. Jangan sampai sekolah berusaha membangun disiplin, tetapi di rumah anak justru dibiarkan menghabiskan waktu tanpa batas bersama layar.
Kembalikan Kelas sebagai Tempat Mencerdaskan
Kita perlu menyadari bahwa keberhasilan pendidikan tidak diukur dari seberapa canggih perangkat yang dimiliki sekolah atau seberapa sering siswa menggunakan teknologi dalam pembelajaran.
Ukuran sesungguhnya adalah perubahan kemampuan berpikir, sikap, pengetahuan, dan keterampilan peserta didik.
Gadget boleh berada di tangan siswa, tetapi jangan sampai menguasai pikiran dan masa depan mereka.
Sekolah harus menjadi tempat siswa belajar memusatkan perhatian, membaca dengan tekun, berpikir secara mendalam, menghargai pendapat, dan membangun pengetahuan melalui proses yang benar.
Jangan sampai guru semakin sibuk mengajar, kurikulum semakin sering berubah, fasilitas semakin lengkap, tetapi pikiran siswa justru semakin sulit diajak belajar karena terkunci dalam dunia gadget.
Pendidikan membutuhkan teknologi, tetapi lebih membutuhkan manusia yang mampu berpikir. Sebab, gadget dapat memberikan ribuan jawaban, tetapi hanya pikiran yang terlatih yang mampu memahami mana jawaban yang benar dan bagaimana menggunakannya.
Jika kita ingin mencerdaskan kehidupan bangsa, mari selamatkan perhatian dan kemampuan berpikir anak-anak kita sebelum semuanya dikalahkan oleh layar yang selalu mereka genggam.



Posting Komentar untuk "Otak Siswa Terkunci Gadget, Proses Belajar Mengajar Sulit Mencerdaskan"