Reduce bounce ratesindo Jangan Berprasangka Negatif: Rocky Masuk Jaringan Pemerintah Prabowo, Beri Kesempatan Sebelum Menghakimi - Indometro Media
☀️ --°C Medan
banner image

Jangan Berprasangka Negatif: Rocky Masuk Jaringan Pemerintah Prabowo, Beri Kesempatan Sebelum Menghakimi

Oleh :  Zulkifli Kepala SMAN I Lhoksukon

Zulkifli

Aceh. Indometro. Id -
Ada sesuatu yang lebih cepat daripada keputusan politik: prasangka publik di media sosial.

Belum selesai sebuah keputusan dibaca, belum jelas apa tugasnya, belum terlihat apa yang akan dikerjakan, vonis sudah bertebaran. Ketika nama Rocky dikaitkan dengan jaringan pemerintahan Prabowo, sebagian orang langsung bereaksi seolah-olah telah menemukan sebuah kesalahan besar. Para buzzer dan penghakim media sosial pun berlomba membuat kesimpulan: Rocky berubah, Rocky masuk lingkaran kekuasaan, Rocky tidak lagi kritis.

Benarkah sesederhana itu?

Kita sering melakukan kesalahan yang sama dalam membaca politik. Seseorang yang selama bertahun-tahun berada di luar pemerintahan, kritis terhadap kekuasaan, lalu mendapat ruang untuk berkontribusi di dalam atau di sekitar pemerintahan, langsung dianggap kehilangan idealisme.

Padahal, masuk ke sebuah ruang kekuasaan tidak otomatis berarti menyerah kepada kekuasaan.

Justru di sinilah publik perlu lebih dewasa.

Rocky selama ini dikenal sebagai sosok yang keras mengkritik pemerintah, tajam membaca politik, dan tidak segan menggunakan bahasa yang membuat penguasa tidak nyaman. Jika sekarang ia berada lebih dekat dengan pemerintahan Prabowo, pertanyaan yang seharusnya diajukan bukan, “Mengapa Rocky berubah?”

Pertanyaan yang lebih penting adalah:

“Apa yang akan dilakukan Rocky setelah berada lebih dekat dengan pusat kekuasaan?”

Itulah yang harus kita tunggu.

Jangan mengadili seseorang berdasarkan posisi sebelum melihat tindakannya.

Kritik Tidak Harus Selalu Berada di Luar Pagar

Ada anggapan bahwa seorang pengkritik akan kehilangan independensinya ketika masuk ke lingkungan pemerintah. Anggapan ini tidak selalu benar.

Kritik dari luar memang penting. Tetapi kritik dari dalam sistem juga bisa jauh lebih menentukan, karena seseorang dapat melihat langsung bagaimana keputusan dibuat, bagaimana kebijakan dirumuskan, dan di mana sesungguhnya persoalan terjadi.

Kalau Rocky benar-benar masuk ke jaringan pemerintahan Prabowo, justru menarik untuk melihat apakah ia akan menjadi sekadar bagian dari mesin kekuasaan atau tetap membawa tradisi berpikir kritis yang selama ini melekat pada dirinya.

Di situlah ujian sebenarnya.

Bukan pada siapa yang mengangkatnya.

Bukan pula pada siapa yang dulu pernah ia kritik.

Tetapi pada apakah ia masih mampu mengatakan benar ketika pemerintah benar dan mengatakan salah ketika pemerintah salah.

Jangan Jadikan Media Sosial sebagai Mahkamah Tanpa Hakim

Fenomena paling berbahaya hari ini bukan sekadar polarisasi politik. Yang lebih mengkhawatirkan adalah munculnya budaya menghakimi sebelum memahami.

Seseorang cukup membuat satu langkah berbeda, lalu masa lalunya dibongkar. Pernyataan lama dipotong. Video lama diedarkan. Potongan kalimat dijadikan bukti pengkhianatan.

Besoknya muncul label baru.

Hari ini dianggap oposisi, besok dianggap antek pemerintah.

Hari ini dipuji sebagai intelektual kritis, besok dihujat sebagai penjilat kekuasaan.

Begitulah cara kerja politik media sosial.

Orang tidak lagi dinilai dari apa yang dikerjakannya, tetapi dari kubu mana ia dianggap berada.

Ini berbahaya.

Sebab demokrasi tidak dibangun dengan keseragaman sikap. Demokrasi justru membutuhkan orang-orang yang dapat berpindah posisi tanpa kehilangan prinsip.

Kalau setiap orang yang mendekati pemerintah langsung dicap telah menjual idealisme, maka bagaimana mungkin gagasan kritis bisa masuk ke dalam pemerintahan?

Prabowo Juga Perlu Dikritik

Di sisi lain, pemerintah Prabowo tidak boleh menjadikan masuknya tokoh-tokoh kritis sekadar sebagai dekorasi politik.

Kalau pemerintah memang serius membangun pemerintahan yang terbuka terhadap gagasan, maka tokoh kritis harus diberi ruang untuk berbicara.

Bukan hanya ketika pendapatnya menyenangkan pemerintah.

Justru ketika pendapatnya tidak menyenangkan.

Sebab pemerintah yang hanya mau mendengar pujian sedang membangun ruang gema. Pemerintah yang mau mendengar kritik sedang membangun mekanisme koreksi.

Maka kalau Rocky benar-benar masuk dalam jaringan pemerintahan Prabowo, publik tidak perlu buru-buru mencurigainya.

Beri dia kesempatan.

Tetapi kesempatan bukan berarti cek kosong.

Publik tetap berhak mengawasi.

Tetap berhak bertanya.

Tetap berhak mengkritik.

Dan ketika suatu saat Rocky memang keliru, kritiklah dengan argumentasi. Ketika ia menyimpang dari prinsip yang selama ini ia perjuangkan, ingatkan dengan bukti.

Jangan kritik orang karena masuk pemerintahan. Kritiklah jika ia kehilangan keberanian untuk mengatakan kebenaran.

Jangan Membunuh Gagasan karena Membenci Posisi

Politik Indonesia terlalu lama terjebak pada logika “siapa bersama siapa”.

Seharusnya kita mulai bergerak menuju logika yang lebih sehat:

“Apa yang ia perjuangkan?”

Seseorang bisa berada di pemerintahan tetapi tetap kritis.

Seseorang bisa berada di luar pemerintahan tetapi tetap keliru.

Seseorang bisa dekat dengan presiden tetapi tetap mengatakan tidak.

Dan seseorang yang selama ini berada di luar kekuasaan pun bisa saja menemukan bahwa sebagian gagasannya lebih efektif diperjuangkan dari dalam.

Karena itu, jangan buru-buru menuduh Rocky berubah.

Biarkan waktu yang menguji.

Kalau ia benar-benar berubah menjadi sekadar pembenar kekuasaan, publik akan melihatnya.

Kalau ia tetap kritis dan mampu memberikan gagasan yang sehat kepada pemerintahan, publik juga akan melihatnya.

Dan kalau pemerintah Prabowo benar-benar memberi ruang kepada orang-orang yang selama ini kritis, itu justru bisa menjadi eksperimen politik yang menarik.

Sebab pemerintahan yang kuat bukan pemerintahan yang tidak memiliki kritik.

Pemerintahan yang kuat adalah pemerintahan yang tidak takut dikritik.

Maka untuk Rocky, jangan diberi karpet merah.

Tetapi jangan pula diberi karpet hitam.

Beri ruang untuk bekerja. Beri kesempatan untuk membuktikan. Setelah itu, kritik jika memang layak dikritik.

Jangan menjadikan prasangka sebagai kebenaran.

Sebab dalam demokrasi, orang tidak seharusnya dihukum karena memasuki sebuah ruangan. Ia harus dinilai dari apa yang dilakukannya setelah berada di dalam ruangan itu.

Posting Komentar untuk "Jangan Berprasangka Negatif: Rocky Masuk Jaringan Pemerintah Prabowo, Beri Kesempatan Sebelum Menghakimi"

Berita Terkini

UPDATE BERITA
Berita Terbaru LIVE
  • Memuat berita...
Berita Terkini UPDATE
  • Memuat berita...
Ads :

INDOMETRO MEDIA

Media promosi untuk bisnis, usaha, produk dan jasa Anda

SLOT IKLAN
📢
PASANG IKLAN DI SINI

Promosikan bisnis, produk atau jasa Anda melalui INDOMETRO MEDIA.

Harga mulai Rp50.000
Klik untuk informasi & pemesanan
PROMO
📣
PASANG IKLAN DI SINI

Jadikan brand Anda lebih dikenal oleh pembaca INDOMETRO.

Harga mulai Rp50.000
Klik untuk informasi & pemesanan
BUSINESS
💼
PASANG IKLAN DI SINI

Pilihan promosi untuk UMKM, perusahaan dan pelaku usaha.

Harga mulai Rp50.000
Klik untuk informasi & pemesanan
PREMIUM
🚀
PASANG IKLAN DI SINI

Tingkatkan visibilitas brand Anda bersama INDOMETRO MEDIA.

Harga mulai Rp50.000
Klik untuk informasi & pemesanan