Reduce bounce ratesindo Tol Sigli–Banda Aceh Menuju Matinya Ekonomi Rakyat Kecil di Sepanjang Padang Tiji–Seulawah - Indometro Media
☀️ --°C Medan
banner image

Tol Sigli–Banda Aceh Menuju Matinya Ekonomi Rakyat Kecil di Sepanjang Padang Tiji–Seulawah

 Oleh Zulkifli

Zulkifli

Tol harus menjadi jalan menuju kemakmuran, bukan jalan yang mematikan mata pencaharian rakyat.

Aceh. Indometro. id - Pembangunan jalan tol Sigli–Banda Aceh merupakan langkah besar untuk mempercepat konektivitas Aceh. Jalan tol memang membuat perjalanan lebih cepat, memperlancar distribusi barang, dan menghubungkan pusat-pusat ekonomi. 

Pemerintah sendiri menyebut keberadaan Tol Sibanceh diharapkan mendorong pertumbuhan ekonomi produktif dan investasi daerah.

Namun, di balik manfaat tersebut, ada persoalan yang tidak boleh dianggap kecil: bagaimana nasib UMKM yang selama puluhan tahun hidup dari arus kendaraan di jalan nasional, khususnya kawasan Padang Tiji–Saree–Seulawah?

Jangan sampai pembangunan jalan tol justru menjadi jalan cepat menuju matinya ekonomi rakyat kecil.

Ketika Kendaraan Berpindah, Pembeli Pun Menghilang

Dulu, kawasan Saree dan sepanjang lintasan Padang Tiji–Seulawah merupakan tempat persinggahan masyarakat yang melakukan perjalanan Banda Aceh–Pidie dan sebaliknya.

Warung makan, kedai kopi, penjual buah, penjual keripik, toko oleh-oleh, bengkel, pedagang kaki lima dan berbagai usaha kecil menggantungkan pendapatan pada kendaraan yang melintas.

Ketika kendaraan berpindah ke jalan tol, otomatis sebagian calon pembeli ikut berpindah.

Fenomena ini bukan sekadar kekhawatiran. Pada 2026, pemberitaan mengenai kawasan tersebut menunjukkan bahwa arus kendaraan di jalur lama menurun dan pedagang keripik khas Saree mulai mencari lokasi baru, termasuk berpindah ke kawasan Padang Tiji.

Artinya, tol memang mempercepat perjalanan, tetapi bagi sebagian UMKM, perjalanan pelanggan justru menjadi terlalu cepat untuk berhenti membeli.

Jangan Menganggap UMKM Bisa Beradaptasi Sendiri

Sering kali persoalan seperti ini dijawab dengan kalimat sederhana: "UMKM harus kreatif dan beradaptasi."

Benar.

Tetapi pemerintah juga harus bertanya: beradaptasi ke mana?

Pedagang kecil tidak memiliki modal besar untuk membangun pusat oleh-oleh baru. Tidak semua pedagang mampu membuka usaha secara digital. Tidak semua produk bisa dikirim melalui jasa ekspedisi. Mereka membutuhkan arus manusia.

Jika jalan tol membuat kendaraan tidak lagi melewati tempat usaha mereka, maka pemerintah tidak cukup hanya mengatakan bahwa tol akan meningkatkan ekonomi. Pemerintah juga harus memastikan bahwa peningkatan ekonomi itu tidak hanya dinikmati oleh kawasan yang berada di sekitar pintu tol.

Tol Harus Menjadi Penggerak Ekonomi, Bukan Pembunuh Ekonomi Lama

Pembangunan infrastruktur seharusnya tidak hanya dihitung dari berapa menit waktu perjalanan yang dapat dihemat. Keberhasilan pembangunan juga harus diukur dari pertanyaan:

Berapa banyak masyarakat lokal yang ekonominya tumbuh setelah jalan tol dibangun?

Jika sebuah jalan tol mempercepat perjalanan Banda Aceh–Sigli, tetapi pada saat yang sama membuat puluhan atau bahkan ratusan usaha kecil di jalur lama kehilangan pembeli, maka pemerintah perlu melakukan evaluasi kebijakan ekonominya.

Jalan tol dan jalan nasional tidak boleh diposisikan sebagai dua dunia yang terpisah. Keduanya harus dirancang menjadi satu ekosistem ekonomi.

Solusinya: Jadikan Jalur Lama sebagai Koridor UMKM dan Wisata

Pemerintah Aceh, pemerintah kabupaten, dan pengelola jalan tol perlu duduk bersama dengan para pelaku UMKM.

Kawasan Padang Tiji–Saree–Seulawah dapat dikembangkan sebagai koridor kuliner, oleh-oleh, wisata dan ekonomi lokal Aceh.

Beberapa langkah konkret dapat dilakukan:

  1. Membangun sentra UMKM dan pusat oleh-oleh yang mudah dikenali.

  2. Membuat kawasan kuliner khas Aceh di sepanjang jalur lama.

  3. Menghubungkan rest area tol dengan produk UMKM lokal, sehingga produk pedagang lama tetap memiliki pasar.

  4. Menyediakan papan informasi destinasi dan sentra oleh-oleh sebelum dan sesudah pintu tol.

  5. Membuat paket wisata Padang Tiji–Saree–Seulawah sehingga perjalanan melalui jalan nasional tetap memiliki daya tarik.

  6. Membantu akses pembiayaan dan renovasi tempat usaha bagi pedagang yang terdampak langsung.

  7. Membuat program khusus agar produk khas Saree dan Padang Tiji masuk ke rest area tol.

Dengan demikian, orang yang menggunakan tol tetap bisa membeli produk masyarakat setempat.

Jangan Sampai Tol Hanya Memindahkan Pusat Ekonomi

Jalan tol seharusnya menciptakan pusat-pusat ekonomi baru tanpa menghancurkan pusat ekonomi rakyat yang sudah ada.

Pemerintah perlu menyadari bahwa di balik sebuah warung kecil terdapat keluarga yang membayar sekolah anaknya.

Di balik sebuah kios keripik terdapat pekerja yang mendapatkan penghasilan.

Di balik kedai kopi terdapat petani, pemasok bahan makanan, dan pedagang kecil lainnya.

Ketika satu warung mati, yang hilang bukan hanya satu tempat berjualan. Ada rantai ekonomi keluarga dan masyarakat yang ikut terganggu.

Karena itu, pembangunan infrastruktur harus menggunakan pendekatan yang lebih luas: bukan hanya membangun jalan, tetapi juga membangun kehidupan di sekitar jalan tersebut.

Jangan Biarkan UMKM Menjadi Korban Kemajuan

Tol Sigli–Banda Aceh adalah simbol kemajuan Aceh. Tetapi kemajuan tidak boleh membuat masyarakat kecil merasa ditinggalkan.

Jangan sampai nanti kita memiliki jalan tol yang megah, perjalanan yang semakin cepat, tetapi deretan warung dan kios rakyat di jalan lama berubah menjadi bangunan kosong.

Tol harus menjadi jalan menuju kemakmuran, bukan jalan yang mematikan mata pencaharian rakyat.

Pemerintah sudah membangun jalannya. Sekarang tugas berikutnya adalah memastikan ekonomi rakyat di sepanjang jalur lama tetap hidup.

Sebab pembangunan yang benar bukan hanya membuat kendaraan semakin cepat sampai tujuan.

Pembangunan yang benar adalah membuat kesejahteraan masyarakat ikut sampai ke tujuan.

Posting Komentar untuk "Tol Sigli–Banda Aceh Menuju Matinya Ekonomi Rakyat Kecil di Sepanjang Padang Tiji–Seulawah"

Ads :