Wamena, Indometro.Id – Pernyataan DPD I KNPI Papua Pegunungan dinilai sebagai refleksi jujur atas kondisi sosial di wilayah tersebut. Intelektual asal Kabupaten Yalimo, Yanes Alitnoe, menyebut konflik perang suku kini telah berkembang menjadi krisis kemanusiaan, moral, dan sosial yang mengancam masa depan generasi Papua Pegunungan.
Yanes Alitnoe menyatakan bahwa konflik yang terjadi tidak lagi bisa dipahami hanya sebagai persoalan adat atau pertikaian sesaat.
“Konflik perang suku tidak lagi dapat dipahami hanya sebagai persoalan adat atau pertikaian sesaat, tetapi telah berkembang menjadi krisis kemanusiaan, krisis moral, dan krisis sosial yang mengancam masa depan generasi Papua Pegunungan,” tegas Yanes, Selasa (19/5/2026).
Menurutnya, apa yang disampaikan Ketua DPD I KNPI Papua Pegunungan bersama seluruh pengurus menunjukkan dampak panjang dari konflik yang terus berulang. Dendam diwariskan lintas generasi, ekonomi keluarga runtuh, perempuan menjadi korban tersembunyi, anak-anak kehilangan masa depan, dan relasi sosial masyarakat semakin rapuh.
Ia juga menyoroti mekanisme penyelesaian adat yang selama ini dianggap jalan damai. Dalam banyak kasus, mekanisme itu belum mampu menyentuh pemulihan batin, keadilan sosial, dan rekonsiliasi yang sejati.
Yanes menilai seruan untuk segera melakukan *Dialog Rakyat dan Rekonsiliasi Konflik* merupakan langkah penting, strategis, dan mendesak. Pemerintah Provinsi Papua Pegunungan bersama delapan pemerintah kabupaten diminta tidak hanya hadir saat konflik meledak, tetapi berani membangun sistem penyelesaian konflik yang menyentuh akar persoalan secara menyeluruh, manusiawi, dan berkeadilan.
Selain pemerintah, Yanes juga menegaskan peran gereja harus dievaluasi. “Gereja juga harus membuka diri, membuka ruang dialog karena gagal membina umat. Konflik ini bukan hanya menghancurkan hubungan antarsuku, tetapi juga melukai kehidupan umat Tuhan,” ujarnya.
Ia mendorong gereja kembali mengambil peran profetis sebagai pembawa damai, penjaga moral, dan pelayan rekonsiliasi. Dialog yang dibangun harus menjadi ruang bersama untuk melahirkan kesadaran baru bahwa nyawa manusia lebih berharga daripada dendam, harga diri suku, maupun kepentingan politik.
Yanes menambahkan, gereja, tokoh adat, pemuda, perempuan, akademisi, dan seluruh elemen masyarakat perlu duduk bersama merumuskan model perdamaian Papua Pegunungan yang menghormati nilai adat namun tetap menjunjung tinggi HAM, keadilan, pendidikan, dan masa depan generasi muda.
“Jika konflik terus diwariskan, maka yang hancur bukan hanya hubungan antarsuku, tetapi juga masa depan Papua Pegunungan itu sendiri. Oleh karena itu, generasi muda harus menjadi pelopor rekonsiliasi, pelindung kemanusiaan, dan penjaga perdamaian demi tanah Papua yang lebih bermartabat, aman, dan berkeadilan,” tutupnya.**( $T )


Posting Komentar untuk "Intelektual Asal Papua Pegunungan Soroti Konflik Suku: " Ini Krisis Kemanusiaan Yang Mengancam Masa Depan Generasi Papua "