Reduce bounce ratesindo Aceh Bersyariat, Tapi Mengapa Shalat Zuhur Siswa Masih Seperti Urusan Pribadi? - Indometro Media
☀️ --°C Medan
banner image

Aceh Bersyariat, Tapi Mengapa Shalat Zuhur Siswa Masih Seperti Urusan Pribadi?

Oleh: Zulkifli Kepala SMAN 1 Lhoksukon

Zulkifli

Lhoksukon. Indometro. Id - 
Aceh dikenal sebagai daerah yang menerapkan syariat Islam. Identitas itu sering kita banggakan, disebut dalam pidato, ditulis dalam berbagai dokumen, dan diwariskan kepada generasi muda.

Tetapi ada satu pertanyaan yang jauh lebih penting dan mungkin terasa mengganggu:

Apakah syariat Islam benar-benar hidup dalam keseharian generasi muda Aceh, atau kita hanya sibuk mengajarkan nama dan konsepnya?

Pertanyaan ini layak diarahkan ke sekolah.

Sebab seorang anak menghabiskan waktu sekitar tiga tahun di jenjang SMA. Tiga tahun bukan waktu yang singkat. Jika selama tiga tahun seorang siswa hanya mendengar bahwa Aceh menerapkan syariat Islam, tetapi tidak dibiasakan menjalankan nilai-nilai syariat dalam kehidupan sekolah, maka ada sesuatu yang patut kita evaluasi.

Jangan Sampai Siswa Hafal Definisi Shalat, Tetapi Tidak Dibiasakan Shalat

Mari mulai dari sesuatu yang paling mendasar: shalat.

Kenapa harus dari shalat?, karena shalat tiang agama. Merupakan pondasi untuk perbaikan watak manusia. Kalau shalatnya ada dan dijalankan dengan benar, maka benarlah yang lainnya.

Di sekolah, ketika waktu Zuhur tiba, sementara siswa masih berada di sekolah hingga sekitar pukul 14.00 WIB, pertanyaannya sederhana:

Apakah sekolah sudah benar-benar memberikan ruang, waktu, panduan, dan pembiasaan agar siswa menunaikan shalat Zuhur?

Jangan sampai siswa diajarkan bahwa shalat adalah kewajiban, tetapi ketika waktunya tiba, pelaksanaannya dianggap semata-mata urusan pribadi.

Sekolah mampu mengatur jadwal pelajaran dengan sangat rinci. Sekolah mampu mengatur upacara. Sekolah mampu mengatur rapat. Sekolah mampu mengatur kegiatan ekstrakurikuler. Sekolah mampu mengatur berbagai agenda akademik dan nonakademik.

Lalu mengapa waktu shalat tidak ditempatkan sebagai bagian penting dari budaya sekolah yang juga harus diatur?

Ini bukan semata persoalan menambah kegiatan keagamaan. Ini persoalan konsistensi antara apa yang diajarkan dengan apa yang dibiasakan. Sebab pendidikan agama yang hanya berhenti di ruang kelas akan mudah menjadi teori.

Padahal shalat bukan sekadar materi untuk dijawab dalam ujian. Shalat adalah kewajiban yang harus dibentuk menjadi kebiasaan.

Tiga Tahun di SMA, Jangan Sampai Masih Buta Al-Qur'an

Masalahnya bahkan lebih besar. Masih ada siswa yang kemampuan membaca Al-Qur'annya belum memadai. Bahkan, dalam realitas pendidikan, masih mungkin ditemukan peserta didik yang belum mampu membaca Al-Qur'an dengan baik ketika mereka sudah berada di jenjang SMA.

Ini bukan sesuatu yang boleh dianggap biasa. Ini seharusnya menjadi alarm pendidikan.

Bagaimana mungkin seorang anak menjalani pendidikan selama bertahun-tahun, tetapi kemampuan dasar membaca kitab sucinya belum tertangani?

Sekolah tidak cukup hanya mengetahui bahwa kemampuan siswa berbeda-beda. Kemampuan itu harus dipetakan. Ketika siswa masuk SMA, kemampuan membaca Al-Qur'an semestinya dapat diketahui melalui pemetaan yang sederhana dan terukur.

Yang sudah mampu, dikembangkan. Yang masih terbata-bata, dibimbing. Yang belum mampu, mendapatkan pendampingan lebih intensif.

Jangan biarkan persoalan itu tersembunyi selama tiga tahun, kemudian baru diketahui ketika siswa hendak meninggalkan sekolah.

Syariat Jangan Berhenti di Spanduk dan Seremonial

Kita perlu jujur. Penerapan syariat Islam tidak cukup dibuktikan dengan spanduk bertuliskan syariat. Tidak cukup dengan ceramah. Tidak cukup dengan kegiatan keagamaan. Tidak cukup dengan siswa mengetahui definisi syariat Islam.

Syariat harus terlihat dalam budaya sekolah. Terlihat ketika azan berkumandang. Cara siswa menghormati guru. cara mereka menjaga pergaulan. Cara mereka berpakaian. Cara murid menggunakan media sosial. 

Terlihat dari lisan yang mereka gunakan. Dari kejujuran mereka. Dari kepedulian mereka terhadap sesama. Dan tentu saja, terlihat dari kesungguhan mereka menjalankan ibadah.

Sebab agama yang hanya diketahui tetapi tidak dijalankan akan berhenti menjadi pengetahuan.

Jangan Bangga Siswa Pintar Ujian Jika Fondasi Akhlaknya Rapuh

Pendidikan tidak boleh terjebak dalam ukuran angka semata.

Nilai akademik penting. Prestasi penting. Kelulusan penting. Masuk perguruan tinggi penting. Tetapi ada pertanyaan yang jauh lebih mendasar: Manusia seperti apa yang sedang kita hasilkan?

Apa gunanya seorang anak sangat terampil menjawab soal, tetapi tidak memiliki kebiasaan beribadah?

Apa gunanya prestasi akademik tinggi jika kejujuran, tanggung jawab, adab, dan akhlaknya tidak tumbuh?

Apa gunanya berbicara panjang tentang generasi emas jika generasi itu tidak memiliki fondasi moral dan spiritual yang kuat?

Sekolah bukan pabrik nilai. Sekolah adalah tempat membentuk manusia. Karena itu, ukuran keberhasilan pendidikan seharusnya tidak hanya bertanya:

“Berapa nilai yang diperoleh siswa?”

Tetapi juga:

“Nilai apa yang hidup dalam diri siswa?”

Aceh Tidak Kekurangan Slogan. Aceh Membutuhkan Keteladanan

Aceh tidak kekurangan slogan agama. Yang dibutuhkan adalah keteladanan. Generasi muda tidak cukup diberi tahu bahwa Aceh adalah daerah syariat.

Mereka harus melihat bagaimana syariat dijalankan. Mereka harus merasakan bagaimana agama menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Mereka harus dibimbing ketika belum mampu. Mereka harus diingatkan ketika lalai. Mereka harus diberikan contoh oleh orang dewasa di sekitarnya.

Karena anak-anak belajar bukan hanya dari apa yang dikatakan guru. Mereka belajar dari apa yang mereka lihat.

Jika kita mengatakan shalat itu penting, tetapi tidak menyediakan ruang untuk membiasakannya, pesan yang diterima anak menjadi kontradiktif.

Jika kita mengatakan Al-Qur'an adalah pedoman hidup, tetapi tidak memastikan kemampuan dasar membacanya, maka pendidikan agama kehilangan salah satu fondasi pentingnya.

Pertanyaan Besarnya: Apa yang Akan Dibawa Siswa Setelah Lulus?

Pada akhirnya, siswa akan meninggalkan sekolah. Ijazah mereka akan dibawa. Nilai mereka akan dibawa. Prestasi mereka akan dibawa.

Tetapi apakah iman, akhlak, kebiasaan beribadah, dan kemampuan membaca Al-Qur'an juga benar-benar mereka bawa?

Inilah pertanyaan yang seharusnya lebih sering kita ajukan. Sebab tiga tahun di SMA bukan hanya tentang mempersiapkan anak menghadapi perguruan tinggi atau dunia kerja. Tiga tahun itu juga kesempatan membentuk manusia.

Maka jika Aceh ingin mempertahankan identitasnya sebagai daerah yang menerapkan syariat Islam, sekolah harus menjadi salah satu garda terdepan.

Bukan dengan memperbanyak slogan.

Bukan dengan memperbanyak seremonial.

Tidak cukup hanya menulis nama - nama kantor pemerintah dengan aksara arab.

Tetapi dengan menghidupkan nilai agama dalam kebiasaan sehari-hari.

Ketika azan Zuhur berkumandang, jangan biarkan murid hanya tahu bahwa itu adalah panggilan shalat.

Seluruh aktivitas jangan hanya jeda sejenak sambil menunggu suara azan selesai lalu aktivitas dilanjutkan

Bimbing mereka untuk menjawabnya. Bahwa Ketika suara azan berkumandang pertanda panggilan Allah telah tiba, jangan hanya diam dan jeda sejenak lalu lanjutkan.

Mari jawab panggilan itu dengan segera menghadapNya. Qalbu mesti Bergetar, iman harus bertambah tatkala nama Allah disebutkan dan ayat - ayatNya dibacakan.

Ketika ada murid belum mampu membaca Al-Qur'an, jangan biarkan ia menyimpan kelemahan itu selama tiga tahun. Dampingi mereka sampai mampu.

Dan ketika kita berbicara tentang syariat Islam di Aceh, jangan hanya bertanya apakah aturan sudah ada. Tanyakan sesuatu yang lebih jujur: “Apakah syariat itu sudah hidup dalam diri anak-anak kita?”

Sebab ukuran keberhasilan syariat bukan seberapa sering kita mengatakan “Aceh bersyariat”, tetapi seberapa nyata nilai-nilai syariat itu membentuk perilaku generasinya.

Jika sekolah adalah tempat membentuk masa depan Aceh, maka pembiasaan agama tidak boleh menjadi pelengkap. Ia harus menjadi bagian dari karakter pendidikan itu sendiri.

Posting Komentar untuk "Aceh Bersyariat, Tapi Mengapa Shalat Zuhur Siswa Masih Seperti Urusan Pribadi?"

Berita Terkini

UPDATE BERITA
Berita Terbaru LIVE
  • Memuat berita...
Berita Terkini UPDATE
  • Memuat berita...
Ads :

INDOMETRO MEDIA

Media promosi untuk bisnis, usaha, produk dan jasa Anda

SLOT IKLAN
📢
PASANG IKLAN DI SINI

Promosikan bisnis, produk atau jasa Anda melalui INDOMETRO MEDIA.

Harga mulai Rp50.000
Klik untuk informasi & pemesanan
PROMO
📣
PASANG IKLAN DI SINI

Jadikan brand Anda lebih dikenal oleh pembaca INDOMETRO.

Harga mulai Rp50.000
Klik untuk informasi & pemesanan
BUSINESS
💼
PASANG IKLAN DI SINI

Pilihan promosi untuk UMKM, perusahaan dan pelaku usaha.

Harga mulai Rp50.000
Klik untuk informasi & pemesanan
PREMIUM
🚀
PASANG IKLAN DI SINI

Tingkatkan visibilitas brand Anda bersama INDOMETRO MEDIA.

Harga mulai Rp50.000
Klik untuk informasi & pemesanan