Oleh: Muh. Farhan, Pemuda Desa Woko
Di salah satu sudut Kecamatan Pajo, Kabupaten Dompu, berdiri sebuah desa bernama Woko—desa yang seharusnya menjadi ruang pulang paling menenangkan bagi warganya. Desa adalah tempat di mana kebersamaan tumbuh, gotong royong hidup, dan harapan dirajut dari hari ke hari. Namun kini, ketika saya memandang Desa Woko yang saya cintai, ada rasa sesak yang sulit dihindari.
Perlahan tapi pasti, wajah desa ini tampak kian buram—seakan kehilangan arah, kehilangan warna, dan menjauh dari bayangan masa depan yang dulu pernah kita impikan bersama.
Kemajuan yang selama ini dijanjikan terasa seperti angin lalu: datang dengan gemuruh, lalu perlahan mereda tanpa dampak yang benar-benar dirasakan secara luas. Sejumlah program desa dinilai oleh masyarakat belum berjalan optimal, bahkan belum memberikan hasil yang signifikan dalam kehidupan sehari-hari warga.
Di sisi lain, masyarakat tetap bertahan—menunggu dengan sabar, meski harapan kian menipis. Para petani masih bergulat dengan hasil panen yang tak menentu. Keluarga-keluarga kecil, bahkan mereka yang telah lanjut usia—yang seharusnya menikmati masa istirahat—masih terus berjuang di tengah keterbatasan, tanpa kepastian hadirnya uluran tangan dari para pemangku kebijakan.
Ironi juga terlihat pada apa yang seharusnya menjadi penggerak kemandirian ekonomi desa. Harapan besar pernah dititipkan pada sebuah wadah yang digadang-gadang mampu membuka peluang usaha dan menghidupkan ekonomi lokal. Namun hingga kini, gaungnya kian redup—seolah hadir tanpa jejak yang benar-benar dirasakan masyarakat.
Kondisi ini memunculkan pertanyaan yang wajar di tengah warga: ke mana arah dari upaya-upaya yang pernah dijanjikan itu? Ketika potensi desa begitu besar, stagnasi semacam ini menjadi ironi yang sulit untuk terus didiamkan.
Di sisi lain, persoalan yang lebih halus namun berdampak luas mulai terasa: merenggangnya hubungan sosial antarwarga. Ruang-ruang kebersamaan yang dulu hangat kini perlahan menyempit.
Perbedaan pilihan politik yang semestinya menjadi bagian dari dinamika demokrasi justru kerap melahirkan sekat-sekat sosial. Akibatnya, energi kolektif masyarakat—terutama generasi muda—tidak lagi terarah pada tujuan bersama.
Tidak sedikit pemuda yang akhirnya merasa bingung menentukan arah, bahkan memilih untuk pasif karena minimnya ruang yang inklusif dan merangkul. Padahal, desa ini memiliki banyak anak muda dengan potensi besar.
Saya yakin, sebagian pemuda Desa Woko yang sadar akan keadaan ini akan bangkit. Mereka masih memiliki semangat dan kepedulian untuk menjadi bagian dari perubahan, asalkan diberi ruang dan kesempatan untuk berkonstribusi secara nyata.
Yang lebih mengkhawatirkan, sebagian warga mulai mempertanyakan arah pembangunan desa, terutama dari anggaran yang disalurkan negara untuk kepentingan rakyat. Ketika harapan tidak kunjung terjawab secara nyata, maka kepercayaan pun perlahan ikut tergerus.
Sebagai pemuda, saya menolak untuk hanya menjadi penonton. Saya percaya, Desa Woko masih memiliki harapan. Masih ada potensi yang bisa dikembangkan, semangat yang bisa dibangkitkan, serta kepedulian yang dapat menjadi modal untuk perubahan.
Namun harapan tidak akan tumbuh jika hanya dibebankan kepada masyarakat kecil. Diperlukan kehadiran nyata dari para pemangku kebijakan desa—bukan sekadar janji, tetapi langkah konkret yang dapat dirasakan langsung. Termasuk upaya untuk kembali merajut kebersamaan yang sudah lama renggang.
Kami tidak meminta sesuatu yang berlebihan. Kami hanya ingin didengar, dilibatkan, dan diberi ruang untuk berkontribusi. Karena dari langkah-langkah kecil yang nyata, kepercayaan bisa tumbuh kembali, dan hubungan sosial yang sempat retak dapat diperbaiki.
Desa ini adalah rumah kita bersama. Jika bukan kita yang menjaganya, lalu siapa lagi? Jika bukan sekarang kita memperbaikinya, kapan lagi?
Jangan biarkan Desa Woko hanya menjadi kisah tentang harapan yang tertunda. Jadikan ia sebagai cerita tentang kebangkitan—tentang masyarakat yang kembali saling merangkul, bergotong royong, menguatkan, dan bersama-sama menata masa depan Desa yang lebih baik.
Sebab pada akhirnya, Desa bukan sekadar tempat tinggal. Ia adalah kehidupan, mimpi, dan masa depan yang layak diperjuangkan—serta cerminan sejauh mana suara rakyat benar-benar didengar dan dihargai.



Posting Komentar untuk "“Desa yang Kian Menjauh dari Harapan: Suara Pemuda untuk Perubahan”"